Selasa, 04 Maret 2014

Apa yang Akan Kau Lakukan Jika Mendengar Jeritan di Hutan?

August, 12, 2009, Monday 
Sebelum memulai kuliah yang mulai aktif bulan Agustus akhir, para penerima beasiswa Global UGRAD World Learning mengikuti Summer Intensive Course di kampus selama sebulan. Ada sekitar 11 orang dari 11 negara yang berbeda di satu kelas yang sama. Satu-satunya Bahasa penyatu kita adalah Bahasa Inggris dengan logat Bahasa masing-masing. Kursus ini hampir memakan waktu kami dari pagi hingga sore. Namun karena guru kami menyenangkan dan kreatif, kami tidak merasa bosan maupun lelah.
Ada dua sesi, yaitu sesi pagi yang diisi materi Bahasa inggris. Dan sesi siang diisi oleh teater. Sesi pagi biasanya diawali listening, reading kemudian speaking. Guru kami, Susan, yang rambutnya kuning keputih-putihan (apakah itu sudah dikatakan uban atau bukan, aku tidak bisa menebaknya) sangat sadar bahwa belajar seharian pastilah melelahkan. Oleh karenanya, di akhir kelas terkadang kami diberikan games. Salah satu games favorit kami adalah card games.
Yang pake kerudung sendiri, yang cantik sendiri
Tak terasa waktu sudah menunjukan jam 11 lebih. Jam pulang sekitar 30 menit lagi. Susan kemudian berinisiatif memberi kami kartu satu persatu secara bergiliran. Setiap orang harus mendiskusikan kartu yang didapat selama 3 menit, tidak boleh ditawar. Elvira, teman sekamarku dari Panama mendapatkan kartu yang menanyakan apa yang akan ia lakukan jika ia mendapat uang yang buanyak sekali. Ia berhayal selama 3 menit mengenai berbelanja ini itu, baju bagus, sepatu mahal, makan di restoran mewah, dan lainnya. Sungguh amat kontras sekali dengan karakternya yang sangat memperhatikan tiap dollar yang dia keluarkan. Aku yakin, jika ia benar-benar mendapat uang banyak, semuanya akan langsung ia masukkan ke bank.
Onni, temanku dari Laos, mendapat kartu yang menanyakan mengenai kepribadiannya. Ia mengakui kalau ia dulunya termasuk orang yang susah gaul. Secara perlahan ia sekarang merubah diri karena ibunya termasuk orang yang pintar ngomong bahkan di depan publik banyak ataupun acara resmi. Ia tidak ingin terjebak pada kesendirian. Ia ingin menjadi seperti ibunya yang seorang public speaker sekaligus periset lingkungan. Kontemplasi Onny mengingatkanku pada diriku sendiri yang termasuk susah gaul dan teramat pendiam.
Pas giliranku mengambil kartu, aku mendapat petunjuk yang berbeda! Alih-alih menceritakan mengenai diri sendiri, kartuku menyuruhku untuk meneruskan cerita. Isinya  seperti ini ”I was walking in the forest then I heard a scream” (Aku sedang berjalan-jalan di hutan, tiba-tiba terdengan sebuah jeritan).
Setelah berpikir sebentar, aku akhirnya punya lanjutan cerita yang (menurutku)sangat realistis.
Oke teman-teman. Jika aku sedang berjalan-jalan di hutan dan mendengar jeritan, maka aku akan mencoba memastikan dari mana arah jeritan itu. Jika ia datang dari arah timur, maka aku akan melarikan diri ke arah barat.”
THE END
Dhuaaaarrrr,,,,..seisi kelas menertawakan (cerita)ku. Aku tak menghabiskan waktu selama 3 menit, bahkan tak juga setengah menit. Susan pun ikut tertawa terbahak dan setuju untuk tidak menyuruhku meneruskan ceritaku yang tak bermutu. Aku sebenarnya bersedih hati karena teman sekelas tidak mendapatkan cerita menegangkan nan heroic ala Robin Hood atau Si Pitung. Tapi setelah kupikir-pikir, ceritaku masuk akal. Kebanyakan dari kita terkadang memang lebih suka lari dari kenyataan dan berusaha untuk tidak memperdulikan masalah atau kekacauan yang terjadi di sekitar kita.
Kalau kata Avril Lavigne sih “I’m thinking what the hell”!
Peace ah!
Artikel Terkait

Tidak ada komentar :

Posting Komentar