Minggu, 25 April 2010

AS: Antara Harapan dan Kenyataan


Di salah satu apartemen kampus Humboldt State University, 5 mahasiswa dari 5 negara berkumpul-kumpul setelah kekenyangan ice cream, Minggu malam,(9/11). Niat awal untuk belajar tergantikan sejenak oleh ngobrol ngalor-ngidul sekitar kehidupan mereka di Amerika Serikat. Saw Htet Aung Khant (18) yang berasal dari Burma merasa mendapatkan kesempatan yang begitu besar ketika ia lolos beasiswa World Learning untuk program Global Undergraduate. Cita-citanya untuk menjadi guru bahasa inggris terasa lebih mudah karena kini ia bisa belajar bahasa inggris sekaligus mempraktikannya tiap saat. “Selain jurusan Sosial, di universitasku Bahasa Inggris adalah salah satu jurusan terpopular. Aku suka bahasa Inggris karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional. Jika kamu ingin berkembang, kamu harus bisa bahasa Inggris,”ungkap Saw ketika ditanya mengapa ia tertarik menekuni bidang ini, padahal nilai UANnya terhitung tinggi, ia bisa saja masuk jurusan lain yang dianggap lebih bonafide di negerinya, seperti insinyur teknologi. “Aku hanya merasa aku cocok dengan jurusan ini,”jelasnya kemudian. Awalnya ia akan diberangkatkan untuk semester musim semi Januari nanti, namun pihak World Learning memutuskan untuk mengirimnya Juli lalu saat liburan musim panas agar ia bisa mengikuti kursus bahasa inggris.Lain halnya dengan Myagmarjav Lkhagvasuren(19) asal Mongolia. Sebelum ke USA, ia sudah menginjak tahun ke-2 di Mongol Ulsin Ih Surguuli (Universitas Negeri Mongolia) dengan mengambil jurusan wildlife di Fakultas Biologi. Ia sangat mencintai kehidupan liar karena ia sering bepergian ke daerah terpencil di daerahnya bersama Sang Ayah yang seorang ahli mammalia atau mammalogist. ”Sejak umur 6 tahun, aku sudah tahu bahwa aku ingin menjadi wildlife biologist. Aku mencintai alam dan aku juga mencintai binatang. Aku adalah bagain dari alam,”terangnya. World Learning menempatkannya di Humboldt State University(HSU) karena universitas di bilangan Humboldt County, California ini terkenal dengan jurusan konservasi lingkungannya. Terlebih karena tidak jauh dari kampus, sekitar 2 jam berkendara, Redwood National and State Park terletak di sana, di mana dulunya terletak pohon tertinggi di dunia.

Miga dan Saw merasakan bebasnya pengambilan mata kuliah yang diberlakukan di HSU dengan universitas asli mereka. “Di universitas asliku, aku tidak bisa memilih kelas yang aku inginkan. Kami harus mengikuti apa yang sudah universitas rancang untuk kami,”jelas Saw yang diamini oleh Miga. “Tapi, tahun depan, di Universitasku akan diberlakukan pembebasan pengmbilan mata kuliah juga. Kami boleh memilih kelas lain tapi harus masih berhubungan dengan jurusan kami,”terang Miga. Di HSU ini, ia mengambil kelas musik, meski konsentrasi kuliahnya jauh berbeda dengan music.Miga menyukai metode pengajaran yang dilakukan oleh para dosen. “Mereka merekomendasikan kami untuk banyak membaca dan mereka hanya menuntun kami mengenai apa yang harus dipelajari. Di universitas asliku, para dosen terlalu banyak bicara dan kami tidak diharuskan untuk banyak membaca. Hal ini mengakibatkan kami menjadi jelek dalam mencari informasi karena mereka memberi tahu kita secara langsung tanpa menyaratkan riset,”sayang Miga.Saw juga menyetujui apa yang Miga kemukakan, “ Di sini, kami memiliki banyak sekali diskusi. Para dosen membiarkan kami berpendapat. Di negaraku, gurunya hanya menerangkan dan kami menulis. Kami juga memiliki diskusi tapi tidak sebanyak di sini. Tiap orang hanya pergi ke sekolah, menulis catatan mengenai apa yang guru katakan dan lalu pulang ke rumah,” kenang Saw pada situasi pelajar dan pendidikan di negaranya.Beratnya pelajaran dan tugas yang diberikan tidak lantas menyurutkan semangat Saw, malah ia makin terpicu untuk bisa menyeimbangkan dengan gaya belajar di USA.” Di sini, aku hanya memiliki satu atau dua kelas tiap harinya tapi rasanya aku tidak memiliki cukup waktu untuk membaca. Di negaraku, aku memiliki 4 atau 5 kelas tiap harinya dan segalanya baik-baik saja. Aku tidak perlu membaca. Oh my God, di sini kami harus melakukan banyak hal!”serunya,”dosen yang aktif, mahasiswa yang aktif, banyak tugas, tapi aku menyukainya.”Kesannya terhadap USA, Saw terkejut ketika mengetahui bahwa USA ternyata juga memiliki beberapa tingkatan ekonomi,”mereka juga memiliki kelas bawah, kelas menengah dan kelas atas,”. “Aku kira semua Negara memiliki kesenjangan ekonomi seperti itu,”simpul Miga.Dan USA juga tidak sempurna, terlebih dalam hal makanan. Shi Li, gadis campuran Singapur, China dan Indonesia ini berseru kencang,” Semua makanan di sini terlihat begitu lezat tapi rasanya sungguh tidak.” Miga menyetujuinya,”Saw dan aku melihat kue yang terlihat begitu enak di toko. Ketika kami memakannya hooeekkksss,”ia memperagakan orang yang sedang muntah. Saw juga memiliki pengalaman lain,”ya, aku melihat telur yang digoreng bersama keju. Ketika melihatnya, aku berseru, oh my God! Dan ketika aku memakannya, oh my God! Sungguh tidak enak!”Bagi Shi, cuaca di sini sangat terasa aneh karena kini malamnya makin panjang dan udara yang makin dingin.”tentu saja karena China memiliki udara yang sangat panas dan juga sangat lembab,”timpal Miga. “Tapi tidak di kotaku, Beijing,”balas Shi,” daripada Mongolia, banyak pasirnya,”ledek Shi kemudian.“Tapi yang aneh bagiku di sini adalah orang-orangnya, terutama pas Halloween. Ada lelaki yang mabuk kemudian memanjat monument kota. Polisi di sana tidak peduli, malah ikut menonton sambil berseru, ‘hey, ada lelaki telanjang yang sedang menaiki monument!’,” cerita Miga.“Mungkin karena mereka tidak melakukan hal yang buruk terhadap orang lain sehingga polisi itu tidak peduli,” Imas Istiani(21), dari Indonesia berpendapat.”Ya, mungkin. Tapi di negaraku, memanjat monumen adalah hal yang buruk,”balas Miga.“Ya, orang-orang di sini aneh-aneh. Mereka mewarnai rambutnya, menindik badannya,“ Saw berkata.“Aku dulu pernah mau ditindik, di alisku. Tidak sakit sih, cuma susah, jarumnya susah menembus alisku dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak menindik alisku,“ kenang Miga yang rupanya pernah menjadi drummer suatu band rock. Saw kemudian melanjutkan,“ di sini wanitanya hampir memiliki tattoo semua. Di negaraku, sangat jarang ada wanita yang memiliki tattoo. Bahkan, lelakipun akan dinilai jelek jika memiliki tattoo,”.Di atas semua kebebasan berpakain dan berekspresi, Imas memiliki kesan positif tersendiri,”dulu sebelum berangkat, aku khawatir dengan kerudung yang aku kenakan. Namun, pas di sini, semua orang tidak peduli dengan apa yang aku kenakan karena ini merupakan kebebasan untuk berpakaian,”.Rupanya hidup di negeri orang dan jauh dari keluarga membuat Saw lebih mandiri,”jika dulu aku lapar, aku akan berkata,’mommy, tolong masak untukkku, aku lapar’ tapi di sini aku tidak bisa berkata,’hey, aku lapar, tolong masak untukku,’” ungkap Saw sambil tertawa. “ Aku harus memasak sendiri, ke laundry sendiri, mencuci piring sndiri. Aku juga harus membersihkan ruanganku, membuang sampah dan bertanggungjawab terhadap apa yang aku miliki,”lanjutnya.Pengalaman buruk Miga adalah ketika uang di kartu rekeningnya dicuri orang,”Ada seseorang yang mengirimku email dan kemuudian menelponku, menanyakan nomor kartu rekeningku. Dia berkata bahwa aku akan mendapatkan uang 10,000$ dan aku berkata,’ok!’”kenangnya.”Itu konyol sekali!”timpal Shi, “memberikan kartu rekening pada orang yang tak dikenal”. Selain itu, ia juga melakukan online shopping sembarangan. Akibatnya, ia kehilangan uang hingga lebih dari seratus dollar hingga kartunya memiliki saldo minus puluhan dollar. Ia kemudian mengadukan masalah ini ke bank dan pihak bank mengganti kartunya dengan yang baru, tapi uangnya tetap tidak bisa kembali.Tapi USA juga telah memberinya pencerahan baru. Dulu, ia memiliki sentimen yang tinggi terhadap China,”dulu, Mongolia berperang dengan China. Hingga sekarang, jika ada orang Mongolia yang pergi ke China, dipastikan banyak yang terbunuh. Bahkan, banyak orang China yang berdiam di Mongolia untuk membunuh rakyat Mongolia. Pernah ada seorang temanku yang pergi kuliah di USA. Ketika gilirannya untuk presentasi, ada seorang China yang berkomentar,’kamu tidak usah presentasi lagi. Sebentar lagi negaramu akan jadi negaraku,’” . Tak ayal, Miga sangat tidak menyukai China. Namun, ketika ia mendarat di USA untuk pertama kalinya, ia bertemu dengan Lu dari China yang mengurus semua keperluan asramanya. Ia juga sekamar dengan Chen yang juga dari China. Pengurus asrama yang ia tinggali, Du, juga dari China. Mereka semua tidak memiliki dendam terhadap Mongolia dan memperlakukan Miga sama baiknya terhadap yang lain. “Mungkin hanya generasi tua atau juga generasi muda yang terlalu terobsesi dengan sejarah yang memusuhi Mongolia. Sekarang, aku memiliki keyakinan untuk tidak menghakimi seseorang berdasarkan negaranya,” simpul Miga.Bagi Elvira Bonaga(22) yang berasal dari Panama, Amerika Tengah, hal yang tidak ia sukai adalah anggapan kebnayakn orang bahwa American hanyalah untuk penduduk Amerika Serikat.” USA disebut American. Orang dari Amerika Tengah disebut Latino. Hal ini seperti kepercayaan bahwa sebutan Amerika hanyalah bagi orang yang tinggal di USA. Untuk membedakan kami, mereka menyebut kami Latin. Mereka tahu mereka salah tapi bukan mereka sajalah yang American,” tandasnya. Imas menyetujuinya,”sebelum ke sini, aku sebenarnya bingung perbedaan antara Amerika dan USA. Setauku Amerika adalah benua, tapi kenapa yang dirujuk kebanyakan itu USA,”lanjutnya,” tapi kemudian di sini kebanyakan orang yang pendidikannya tinggi akan menyebut USA alih-alih hanya Amerika saja.” Elvira lalu berandai-andai suatu saat nanti mereka sadar bahwa American bukanlah hanya bagi penduduk USA,”mungkin di masa depan nanti, pemikiran mereka akan berubah.” Selalu ada harapan untuk masa depan.
Arcata, 10 november, 2009
Artikel Terkait

3 komentar :

  1. perasaan dulu aku pernah baca note ini di pesbuk, hehee...
    yups2, selalu ada harapan di masa depan, karena harapan adalah tiang penyangga kehidupan, apapun kenyataannya nanti, setidaknya dengan harapan, kita berusaha bangkit untuk mengejarnya...

    BalasHapus
  2. hahaha,.
    ya,.ini memang dr FB,.kan aku bilng aku baru copy paste bbrp dr FB dulu:-D

    BalasHapus