Jumat, 03 April 2015

Petualangan Hari Ke-2 di Pittsburgh, Pennsylvania

Pittsburgh, Pennsylvania, 2 Januari 2015

Dari Cleveland ke Pittsburgh ditempuh hanya 2 jam 30 menit. Cukup dekat, meski kedua kota tersebut terletak di berbeda state. Mungkin seperti dari Cirebon (Jawa Barat) ke Tegal (Jawa Tengah). Di dalam bus, aku duduk terpisah dari suami karena bus sudah hampir penuh. Awalnya, aku kira tidak bisa tidur tanpa di samping suami karena pundaknya adalah bantalku. Ternyata, saat bus mulai bergerak, mataku langsung menutup rapat-rapat. Meski total tidur tadi malam hanya sekitar 5 jam (Detroit 2 jam, terminal Cleveland 1 jam, bus ke Pittsburgh 2 jam), tapi mata ini segar ceria saat ditugaskan untuk melihat pemandangan yang indah-indah.
Dari sini saja, terlihat ada empat jembatan yang menghubungkan dua kawasan kota Pittsburgh

Oh….Pittsburgh memang sangat indah. Selain terkenal sebagai Steel City (Kota Baja) karena memiliki ratusan perusahaan yang bergerak di bidang baja, Pittsburgh juga disebut sebagai The City of Bridge (Kota Jembatan) karena ada hampir 500 jembatan di kota yang dialiri 3 sungai besar. Bayangkan, tiga sungai besar menyatu di sebuah kota! Sungguh sejuk melihat biru-bening-binar-berlian (kok, kaya judul sinetron?) bertebaran dan menghampar di sepanjang mata memandang. Maaf kawan, saat kusebut “sungai,” jangan kau identikkan dengan sungai Ciliwung yang *****(disensor) itu, tapi sungai jernih bersih yang bahkan airnya seperti bisa diminum langsung. Aku bayangkan, produk air mineral di sini tidak laku. Kalau haus, tinggal bahwa sedotan superpanjang, duduk di samping sungai, lalu sedot airnya kuat-kuat.
Binar Bening Berlian di Allegheny River


Kami memiliki waktu 12 jam dengan rencana mengunjungi 12 tempat. Jarak tempat tujuan kuusahakan yang bisa ditempuh oleh kaki.  Bukan…bukan karena ingin ngirit, tapi karena ingin sehat (beuh…alasan…). Dan tujuan pertama kami adalah Fort Duquesne Boulevard. Dari sana, kami bisa melihat enam jembatan yang menyebrangi Allegheny River. Karena Pittsburgh adalah kota Baja, tentu saja konstruksi jembatan ini super duper kuat, disusun kokoh agar bisa dilalui ratusan mobil permenitnya. Tak hanya untuk mobil saja, disediakan juga jalur khusus untuk pejalan kaki dan sepeda.

Setelah menyebrangi jembatan, kami berjalan menyusuri tepian Allegheny River. Ada jalur khusus untuk berjalan kaki dan bersepeda yang membatasi jernihnya sungai dengan gedung tinggi pencengkram bumi dan pencakar langit. Di sekitar sungai, ada banyak Canada goose (semacam angsa tapi berleher lebih pendek) yang mencakar rumput mengais makanan. Sayangnya, mereka suka pup sembarangan (gak pake cebok lagi!), padahal jelas-jelas di seberang mereka ada sungai (jadi inget, Indonesia menyabet rekor wc terpanjang di dunia yang terletak di bantaran sungai ciliwung). Dan saat aku merogoh tas dan mengambil snack karena perut mulai merintih pedih, para angsa tersebut langsung mendongak dan melirikku dengan mata yang memelas seperti bilang, “Bu haji….minta snacknya dong..kami sudah tiga hari tidak makan.”

Dan kecurigaankupun langsung terbukti saat beberapa dari mereka mulai mengikutiku dan berusaha menyambar snack. Kontan aku langsung lari tunggang langgang mencari tempat aman yang bersembunyi. Awalnya aku hendak menceburkan diri ke sungai, namun ingat, aku tidak bisa berenang. Sialnya, suami dan Bambang malah tertawa terbahak-bahak, tak menolongku sama sekali. Aku merasa bagaikan berada di sinetron “Putri yang Terbuang.”
Rebutan snack dengan angsa

Setelah berlari menjauh dari angsa-angsa nestapa durjana tersebut, sampailah aku di tempat dimana aku bisa melihat tiga aliran sungai. Dari sini, terlihat jelas PNC Park, stadium modern yang menjadi rumah tim olahraga Pittsburgh Pirates. Tak jauh dari stadium, ada Water Steps, susunan bebatuan (atau semen?) kotak-kotak yang dialiri air bening sehingga tampak seperti air terjun kecil-kecilan. Sayangnya, karena sedang memasuki musim dingin, aliran airnya dimatikan; walhasil, Water Step yang kami lihat seperti kardus-kardus kering peninggalan gelandangan. Kekecewaan kami tak hanya di situ. Karena kekuatan Pittsburgh terletak pada airnya (seperti halnya Sailormoon mengandalkan kekuatan bulan), maka kebanyakan tempat wisata yang kami kunjungi seperti mati, karena airnya tidak dialirkan. Huhuhu… dendam rasanya, pokoknya nanti summer harus ke sini lagi!

Oh ya, selain karena Pittsburgh penghasil besi dan kawan-kawan, letaknya yang di tepian tiga sungai besar membuat Pittsburgh tempat yang strategis untuk pertahanan perang maupun sasaran lawan. Oleh karenanya, ada seratus lebih monumen dan memorial yang sebagian besarnya untuk mengenang masa perang dahulu. Dengan jangkauan kaki saja, kami melihat ada sekitar lima monumen dan memorial; ada yang Korean War, Vietnam War, WW II. Ada juga bekas benteng bernama Fort Pitt Block House yang kini beralih fungsi menjadi museum kecil sekaligus toko souvenir.
Cuit cuit...cie...eheheh

Puas melihat sungai dan pohon-pohon meranggas, kami mulai memasuki pedalaman kota. Mata ini tiba-tiba silau dengan kaca-kaca bening yang super bersih. Saking bersihnya, dari jauhpun aku sudah bisa melihat jerawat yang mulai muncul di dekat hidung karena sudah dua hari tidak mandi. Gedung paling gress di kota ini adalah Pittsburgh Plate Glass alias PPG. Kompleks ini terdiri dari enam bangunan dengan kaca yang bersinar biru bagaikan permata. Mata ini sampai silau dibuatnya. Di dalam kompleks terdapat tempat untuk ice skating dimana antriannya begitu panjang mengular. Bu-bu-bu-hi alias bule-bule butuh hiburan.
Di kawasan PPG dimana bangunannya bagaikan istana kaca

Tak terasa kami sudah berjalan kaki dari mulai jam 9.30 sampai sekitar 3 sore. Sambil makan siang, kami mengistirahatkan kaki yang mulai membengkak. Setelah menimbang cara untuk pergi ke masjid, kami memutuskan untuk naik bus agar bisa menghemat waktu sekaligus tenaga. Sekitar setengah jam kemudian, tibalah kami di Islamic Center of Pittsburgh yang terletak di dekat kampus Carnegie Mellon University alias CMU (singkatannya sama dengan kampusku). Dari luar, terlihat seperti rumah di sekelilingnya, kecuali dinding depan yang full kaca sehingga kami bisa melihat papan tempat menaruh sepatu dan beberapa kursi untuk melepas sepatu.

Masjid, dimanapun, menawarkan ketenangan seketika kaki ini menjejak ke dalamnya. Ruangan solat yang lapang dan hangat benar-benar menentramkan jiwa. Di sini kami menjamak asar dengan duhur, sekaligus menanti sekitar setengah jam untuk melaksanakan magrib yang dijamak dengan isya. Selesai solat, kami langsung mencari restaurant India halal yang ada di dekat masjid. Awalnya kami ragu untuk masuk karena takut mahal…tapi perut mulai berbunyi lagi, dan dengan setengah hati namun segenap perut dan hidung, kami langsung duduk manis menunggu pelayan.

Saat pelayan memberikan menu makanan, mata kami langsung melirik kolom di sebelah kanan, yaitu harga. Jika harganya cocok di mata, baru kami lirik kolom di sebelah kirinya, yaitu nama menunya. Namun karena semua menu menggunakan nama India, kami hanya menebak-nebak saja makanan yang kami pesan. Dan saat pesanan datang, ternyata porsinya seperti untuk enam orang, padahal kami hanya memesan 3 menu. Sayapun tanpa ragu (karena di sini memang sudah biasa) meminta pelayan membawakan box agar kami bisa membawa pulang sebagian makanan sisa (euuuuwww…).
Warteg dan Padang jauuuuuh lebih enak

Lumayan lah untuk sarapan besok pagi, pikirku mencoba berhemat. Setelah box datang, saya bertanya ke pelayan, “Can I have the bon, please?”
Sang pelayan bingung, tidak mengerti maksudku. Setelah ia memutar otaknya, ia bertanya balik, “Oh, do you mean the bill?”
“Yes, I meant that,” kataku sambal menahan malu.
Bambang bertanya, “tadi kamu minta apaan? Bon? Apa itu bon?”
Aku terkikik, “saking jarangnya ke restaurant, aku kira Bahasa inggrisnya ‘bon’ tetep sama ‘bon’, deuh…tumben banget aku malu-maluin.”

Ketika bon datang, kami berhitung-hitung lagi karena di Amerika kami harus memberikan tip tiap kali ke restaurant. Jumlah tip berbeda di tiap kotanya, antara 10% hingga 20% dari harga total makanan. Biasanya, makin besar suatu kota, makin besar pula tip yang harus diberikan. Kami memberikan 15% tips, tapi karena tidak ada uang pas, akhirnya tip yang kami berikan hampir mencapai 20% (alias 1$ lebih banyak). Pelayan lalu datang lagi dan mengambil bon beserta uangnya.

Sambil berkemas, kami berdebat tentang rencana selanjutnya. Lanjut jalan-jalan lagi, atau langsung pergi ke terminal bus? Setelah menimbang-nimbang bahwa langit sudah gelap, hasil poto pasti tidak bagus, dan juga perut kenyang disertai kaki yang sudah bengkak, akhirnya kami memutuskan untuk langsung pergi ke terminal Greyhound.
Tiba-tiba, pelayan datang lagi dan menyerahkan uang kembalian, yang seharusnya menjadi tip untuk mereka. Aku kaget, sekaligus senang, karena ada uang receh untuk naik angkot nanti. Kuambil 1$ dan kubiarkan sisanya di atas meja.

Keluar dari restoran, Suamiku bilang,”tadi pelayan itu ngeliatin kamu berdua pas kalian lagi ngobrol.”
“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Ya mungkin mereka bingung, apa kita ga pulang-pulang karena minta kembalian uang? Akhirnya, si cowok bule itu kan dateng bawain kembalian, tapi mukanya agak ga enak gitu.”
“Masa sih? Aku ga sempet liat wajahnya, mataku langsung ngeliat duitnya, hahah”
Tau gitu, aku ambil aja semua uang kembalian itu ya..pikirku. Ya sudahlah, rejeki mereka.

Saat kami tiba di dalam terminal bus, suamiku melihat ada display cantik berupa rumah-rumahan kecil yang dikelilingi salju dan kereta yang ditarik rusa terbang. Karena waktu berangkat masih 2 jam, aku dan Suami berlomba-lomba memoto display itu dengan menggunakan DSLR baru, sementara Bambang sedang di luar terminal. Setelah menghasilkan tiga jepretan, seorang petugas security mendatangi kami. Dengan wajah keruh, suara tinggi dan mata melotot, dia merampas kamera kami.

“Give me your camera!” Bentaknya.
“Wait…what happens here?” Suaraku langsung gemetar.
“You are not supposed to take pictures in this building!” Dia sekali lagi berusaha merenggut kamera, namun suamiku mempertahankannya sambil berulang kali bilang, “I’m sorry.”
“Please, do pardon me. I have no idea at all that we may not take picture around here. If I did, I would not do it, for sure! Do you want me to delete all these pictures? Here you go.”
Suamiku lalu memperlihatkan pada lelaki itu tiga poto yang kami ambil di dalam terminal bus, dan langsung menghapusnya.
“No more? Only these?” Ia bertanya.
“No, we didn’t take much,” jawabku. Setelah puas dan yakin tak ada lagi poto, ia meminta Suamiku mencopot batre kamera seketika itu juga di depannya. Suamiku pasrah dan menurut. Ia lalu bertanya padaku.
“So, where are you from? China?”
“No, Indonesia!” Lho…emangnya wajahku mirip orang China kah?
“Where are you going?” Ia Tanya lagi.
“Washington D.C.” jawabku pendek.
“Listen to me!  Kalian ga boleh moto apapun di dalam bangunan pemerintah. Terminal ini punya pemerintah, jadi gak bisa sembarang kalian moto tanpa izin. Apalagi nanti di DC, di sana bakal lebih tegas lagi. Beruntung kali ini aku memaafkan kalian, jangan diulang lagi,” katanya sambil menepuk pundak suamiku sambil berlalu.

Kami langsung duduk lemas karena syok. Hampir saja lelaki itu membanting kamera baru kami. Suamiku langsung memasukkan kamera ke dalam tas.
“Hampir saja kita kehilangan kamera…” ujarku perlahan.


Dan dua hari kemudian, kami benar-benar kehilangan kamera kami.
Poto di depan terminal Greyhound (beruntung gak dihapus sama security galak)

Artikel Terkait

Tidak ada komentar :

Posting Komentar