Selasa, 15 Juli 2014

Berburu Beasiswa ke Amerika Part 5 (PDO, VISA)


Kawan, sudahkah kau baca kisahku dalam Part 4 mengenai musim kelabu akan penantian yang menggebu? Jika sudah, baiklah… kulanjutkan kisah piluku itu.
 
30 April
Daripada menggantungkan hidup pada kepastian namun sepertinya tidak pasti, aku segera melangkahkan diri pada tindakan nyata; mengurus cuti Undip. Andaikata tak ada kampus Amerika sana yang mau menerimaku, setidaknya aku bisa kembali pada pelukan Mas Undip meski ia pernah kuabaikan satu semester lamanya. Ditemani suami dan sepeda motor tua, kami merayapi pantura dari Batang menuju Semarang sejak dini hari.
Dari mulai staff jurusan, staff fakultas, hingga ketua jurusan bertanya mengapa aku mengambil cuti. Kujawab saja, “masalah ekonomi." Memang, pada saat itu, dunia perdompetanku sedang tipis setipis-tipisnya. Untuk makan saja, aku dan suami harus makan sepiring berdua; dan biasanya nambah hingga tiga kali.

1 Mei
26 tahun yang lalu aku dilahirkan di tanggal ini. Semestinya hari ini membahagiakan; setidaknya kejutan spesial dari suamiku. Pagi buta saat ku buka mata; aku terkejut karena tak ada kejutan, tak ada kado, tak ada kue; yang ada hanya lilin bekas mati lampu. Suamiku hanya mengucapkan selamat ulang tahun sambil sepintas lalu. Kubuka Facebook; dari puluhan ucapan yang berdatangan; suamiku tak menulis apapun di dindingku! (Yang kusadari kemudian; kenapa dia harus menulis di dindingku kalau kami tinggal sedinding dan seatap?)
Oh…hanya itu saja kah? Di hari spesial ini, harusnya ia menghiburku! Ia yang paling tau betapa remuk redamnya mimpi yang sempat kubingkai. Ia yang paling mengerti mengapa terkadang pandanganku seakan menerawang. Ia yang melihatku setiap jam membuka email, berharap kabar baik itu datang. Ia yang langsung memahami mengapa emosiku terkadang naik turun dan moodku seringkali jatuh ke jurang terdasar.
Dan seharian itu aku memantapkan hati dan berniat secara sungguh-sungguh dan menyeluruh untuk tidak berbicara setengahpatahkatapun padanya.
Namun, saat paginya berniat seperti itu, siangnya tiba-tiba aku melihat bungkusan kado di kamar. Ingin rasanya mengucapkan terimakasih. Tapi….karena sudah niat ngambek seharian, aku melanjutkan aksi mengunci mulutku; kecuali untuk makanan (bahkan saat gosok gigipun aku tutup mulut).

2 Mei
Di Jumat siang yang panas ini,
Dear Imas,
I am pleased to inform you that you have received official admission to the Master’s program in American Literature at Southern Illinois U, Edwardsville. Congratulations!
ALHAMDULILLAH….
Aku hampir tak percaya sekaligus tak berdaya saat membaca email yang sudah kutunggu ribuan tahun lamanya ini! Semua perjuangan langsung tak terasa susahnya. Segala emosi yang berkecamuk langsung lenyap. Keputusasaan berganti harapan. Terowongan gelap tak berujung sekarang terlihat titik cahaya akan jalan keluar. Spontan, aku langsung menelpon suami yang sedang dinas di tengah sawah.
“Aku diterima di SIUE!” jeritku memekik.
“Alhamdulillah! Selamat ya!” ujarnya di seberang.
Lalu, aku ingat, aku masih marah padanya. Kulanjutkan aksi kemarin; langsung saja kututup teleponnya sebelum ia sempat mengucakan kalimat lain.

Pengakuan Mengharukan
Malamnya, aku putuskan untuk mengakhiri ngambek-ngambekan yang ga jelas alamatnya ini. Capek juga ngambek hampir 2 hari tapi yang dingambekin cool-cool aja, semanis es kul-kul. Akhirnya, meluncurlah serentetan pengakuan dari suamiku.

“Aku tau kamu marah. Maaf atas kadonya yang telat; kan kemarin kita seharian ke Semarang, nyampe rumah sudah larut malam. Mana sempat aku beli kado.”
“Saat kamu tertidur pulas, aku buka fesbuk dan berusaha menuliskan ucapan ulang tahun. Tapi entah kenapa, malam itu fesbuk susah sekali dibuka. Padahal website lain bisa aku buka dengan cepat dan lancar. Hingga akhirnya aku menyerah karena sudah jam 2, aku belum istirahat sedikitpun.”
“Meski belum sempat membeli kado dan mengucapkan selamat; saat malam itu, aku selalu berdoa agar kamu segera diberikan berita baik di hari spesialmu.”

Oh, istri mana yang tidak terharu akan pengakuan yang begitu manis itu?
“Sayang, kok kadonya belum dibuka? Hargai pemberianku dong…”
“Aku sudah tau isinya kok! Dari bentuk luarnya aja udah ketauan itu apa!”
“Kan minggu kemarin kamu pecahin termos, makanya aku beliin yang baru. Semoga termos baru ini bisa menjaga kehangatan cinta kita selalu.”
Aku menyesal, mengapa yang kupecahkan itu termos? Coba kalo yang kupecahkan itu laptop ato kaca rumah….
Tapi kalo dipikir-pikir, tidak ada di dunia ini lelaki yang menghadiahkan wanitanya sebuah termos; hanya suamiku seorang. Aku sudah mengira-ngira, mungkin tahun depan suamiku memberi kado wajan penggorengan.
“Agar cinta kita semakin enak jika semakin sering digoreng.” Mungkin begitu alasannya. Ia pikir cinta itu semacam kerupuk udang.

Beberapa Hari Kemudian
Dear Imas,
I am pleased to inform you that you have been offered conditional admission to the Master’s program in English Language and Literature at Central Michigan University. Congratulations!
Ow..ow…ow…baru saja kemarin SIUE meminangku, kini CMU berniat melamarku juga! Baiknya kupilih yang mana ya? Hmmm…aku lalu menggantungkan pilihanku Antara SIUE dan CMU.
Rasakan pembalasanku akibat menggantungku berbulan-bulan yang lalu!!! Hua Ha Ha Ha… (ketawa serem khas monster raksasa di film ultraman)

12-15 Mei- Pre Departure Orientation (PDO)
Untuk mempersiapkan para grantees sebelum mereka terbang ke benuanya Pak Dhe Columbus, Aminef mengadakan PDO tiap tahun. Tahun ini, lokasinya di Bali! Wow, Bali! Kuakui dengan malu-malu, aku belum pernah ke Bali seumur hidupku. Ya, sebenarnya malu juga sih kalah saing dengan ikan tongkol yang pasti sering bolak-balik Jawa-Bali tiap hari. Karena baru pertama kali di Bali, rasanya sayang jika mata ini mengedip meski sekejap pun. Banyak sekali pemandangan indah, terutama pantai berbulenya. Terlebih lagi, belakang hotel Ayodya Resrot tempatku menginap, menghadap langsung ke pantai Nusa Dua, seolah-olah pantai itu hanya milik kita berdua (maksudnya ke siapa nih? heheh)
Pantai di belakang Hotel Ayodya Resort

Aku kagum sekali dengan perilaku berkendara di Bali. Meski padat merayap, bahkan terkadang macet, tapi jarang sekali ada orang yang membunyikan klakson. Semua orang sepertinya benar-benar menikmati waktu, di saat macet sekalipun. Tidak seperti di Jawa, selain klakson yang selalu saling bersahutan satu sama lain, suara knalpot terkadang dipasang nyaring, melebihi suara panci yang diadu dengan drum.

Peserta PDO tidak hanya para grantees Indonesia yang akan pergi ke Amerika, tapi juga researcher Amerika yang mendapatkan kesempatan untuk melakukan penelitian di Indonesia. Di sinilah ajang sharing sesame grantees dan researcher. Terlebih para grantees bisa menanyakan langsung berbagai pertanyaan maupun kekhawatiran akan bagaimana dan seperti apa kehidupan di Amerika. Mulai dari dunia perkuliahan “jangan meng-add dosen kalian as your friend di facebook karena kalian bukanlah temannya” hingga dunia pergaulan “jangan menanyakan pada orang Amerika apakah mereka sudah mandi atau belum”.
Di hari kedua, salah satu pembicaranya adalah Anies Baswedan, rektor termuda yang juga fulbrighter. Ada banyak pesan yang bisa kami petik dari beliau, terutama mengenai kemauan untuk kemajuan. Ia mengisahkan bagaimana ia bisa mendapatkan beasiswa Fulbright.

Dua sejoli; Anies & Imas Baswedan
Awalnya saya mendapatkan surat dari AMINEF yang menyatakan bahwa saya tidak lolos di tahap awal administrasi. Saya kemudian langsung pergi ke wartel untuk menelpon AMINEF. Saat itu, yang mengangkat telepon adalah Pak Piet.
“Pak, saya mau menanyakan mengenai kenapa aplikasi beasiswa saya gagal di tahap administrasi.”
“Siapa nama Anda?”
“Anies Baswedan, Pak”
“Tunggu 5 menit yah, saya cari dulu filemu”
Sungguh, 5 menit yang terasa paling lama dalam sejarah saya, karena pulsa wartel berjalan terus.
“Mas Anies, aplikasi anda gagal karena bidang studi yang anda minati tidak masuk dalam prioritas kami.”
“Oh..gitu ya Pak? Kalo gitu, boleh saya ganti bidang studi saya?”
“Boleh, studi apa yang anda minati?”
“Yang mana aja deh Pak, yang penting masuk prioritas.”
Dan akhirnya, lamaran saya diterima  hingga lolos ke tahap akhir.

Cerita Anies Baswedan memberikan saya pelajaran bahwa kita jangan hanya pasrah akan kenyataan atau nasib buruk yang menimpa kita, tetapi rubahlah nasib buruk itu menjadi nasib yang baik. Awal dari niat Pak Anies menelpon Pak Piet adalah untuk mengetahui kesalahan apa yang harus ia perbaiki agar tahun depan ia bisa sukses melewati tahap administrasi. Namun, siapa nyana bahwa aplikasinya langsung dapat diperbaiki seketika hingga akhirnya ia bisa lolos ke Amerika.

7 Juli- VISA
Salah satu staf AMINEF berpesan,”jangan mengadakan tasyakuran sebelum tiket pesawat sudah di tangan kalian.” Karena rumit dan panjang, hingga memakan waktu lebih dari setahun, di tiap proses beasiswa ini, ada saja peserta yang gugur. Dari mulai aplikasi, wawancara, tes, penempatan kampus hingga visa. Itulah mengapa aku tidak berani teriak-teriak kegirangan saat baru proses wawancara. Jika wawancara lolos, masih ada test IBT dan GRE yang siap menjegal. Bahkan mirisnya, andaikata IBT dan GRE pun tinggi, pintu masuk ke Amerika belum terbuka sepenuhnya, tergantung dari universitas yang kita lamar, apakah mereka tertarik untuk meminang kita juga? Jika ada universitas yang akhirnya bilang, "Hei Imas, daripada bengong, mending kuliah di sini ja!" maka kita juga harus menghadapi mangsa terakhir:VISA!

Sebagai proses terakhir, visa bagaikan penutup hidangan yang lezat dan ringan yang disajikan setelah kita melahap porsi besar appetizer dan main dish. Yang membuatku mulas 24 jam, meski sudah ada tanggal pasti keberangkatan, AMINEF tak jua memberiku jadwal wawancara. Hingga akhirnya seminggu sebelum tanggal berangkat, AMINEF menyuruhku untuk mengisi aplikasi DS160 online hari itu juga, karena mereka akan mengajukan wawancara ke kedubes hari itu juga! Dan hari itu juga (udah berapa hari itu juga sih yang kusebut?) aku langsung kalang kabut karena internet di rumah yang biasanya lancar jaya bak bis pantura langsung mogok gak bilang-bilang dulu. Aku langsung ngacir ke warnet di kecamatan; sialnya, ternyata mereka juga bilang koneksi internetnya masih bermasalah! Akhirnya, kulari ke warnet lain yang lolanyaaaaa bukan main! Buka tab baru loadingnya 15 menit. Setiap kali ngklik harus nunggu 10 menit. Apa yang diketik tidak langsung muncul di layar. Dongkooool bukan main, apalagi AMINEF terus-terusan nelepon agar aku segera mengisi aplikasinya. 2 jam nongkrong di komputer yang ada malah gambar bundaran kecil yang terus berputar-putar. Sejam kemudian, suamiku bilang internet di rumah sudah mulai bernafas. Aku langsung ngacir balik ke rumah. 15 menit kemudian DS160ku sudah lengkap dan segera kukirimkan ke AMINEF via email.

Semenit kemudian AMINEF telepon lagi, "Imas...surname itu nama keluarga alias nama belakang, given name itu nama depan! Revisi lagi ya!"
Gubrak! Kok bisa-bisanya aku melakukan kesalahan sepele seperti itu? Langsung saja kurevisi lagi. 10 menit kemudian kukirimkan lewat email.

Kring kring kriiiing..AMINEF telepon lagi! Aku rasanya pengen nangis..ini AMINEF nelepon aku tiap menit kaya orang pacaran aja... Apalagi salahku mbak cantik?
"Imas..itu kontak kamu di Amerika bukan IIE, tapi kampusmu! Cepetan direvisi ya..ini kurirnya udah nunggu, mau berangkat bentar lagi!"
Oke..apapun itu untukmu, sayang..dan segera kurevisi lagi! Kali ini karena sudah ahli mengisi DS160, 5 menit sudah rampung. Email sent to AMINEF!
Kutunggu lagi dering telepon dari si dia..

Hening..
Lalu, ada email masuk dari si dia.
"Imas, tadi kurirnya keburu berangkat, akhirnya kami kirim aplikasimu yang kedua."
Gubrak deh..rasanya pingin kucubit komputerku ini saking gemesnya, tapi aku ingat, aku sedang berpuasa ramadhan.
Tak lama kemudian AMINEF mengirimkan tiket pesawat dan akomodasi hotel. Oh God, 2 hari kemudian aku terbang ke Jakarta untuk wawancara.


gerombolan pemangsa visa
Wawancara VISA kujalani 5 hari sebelum berangkat ke Amrik! Karena DS-2019, salah satu syarat untuk mengajukan visa interview diterima AMINEFdi akhir waktu, jadwal wawancaraku dengan jadwal keberangkatanku ke Amerika berada dalam minggu yang sama di bulan puasa. Aku sampai di Jakarta Minggu siang dan jadwal wawancaraku Senin siang. Bersama dengan beberapa fulbrighter lainnya, kami memutuskan untuk buka bersama di GRAND INDONESIA! Bukan main-main, biasanya paling banter aku dan suami makan di warung angkringan pinggir jalan, sekarang aku akan pesta pora di Grand Indonesia! Pertama kali masuk mall di kawasan Bundaran HI ini, aku sudah berasa berada di Amerika. Banyak sekali ekspatriat bule yang tampak kongkow di cafe-cafe di dalam mall super mewah ini. Display tokonya teramat elegan dan anggun. Jangankan masuk ke dalam toko untuk melongok, untuk melirik etalasenya saja aku sudah merasa berdosa dan tidak pantas. Jika orang bilang Indonesia itu negara miskin, ooohh...salah tepat jika kita sedang di Grand Indonesia. Remaja-remaja yang biasanya sering kulihat di sinetron sekarang banyak hilir mudik di dalam mall. Entahlah, orang kaya memang beda, bau uangnya sudah tercium dari kejauhan. Dan di bulan puasa ini, di saat magrib ini, Grand Indonesia jauuuuuuh lebih ramai dari pasar malam. Dari lantai terbawah sampai lantas teratas, semua tempat makan penuh, bahkan masih banyak yang antri juga. Kami naik turun, keliling, belok kanan belok kiri, tak ada yang menyisakan bangku satu pun! Padahal adzan magrib sudah bertalu-talu dari tadi.

Dan dari lantai atas, di salah satu sayap mall, kami melongok ke bawah, ada kafe yang sepertinya memiliki beberapa spot kursi kosong. Takut kursinya keburu direbut orang, rasanya kami ingin langsung terjun ke lantai bawah! Mba Rahmah, salah satu Fulbrighter dari Medan berujar,"baru sadar kan betapa kuatnya kaki cewek kalo disuruh muter-muter mall?" Kami yang cewek, meski lapar melanda, tetap segar ceria demi melihat etalase-etalase manis nan menggoda. Namun para cowok sepertinya sudah hampir menyerah, kulihat kaki mereka mulai berubah menjadi karet yang melonggar.

Ternyata eh ternyata, spot kosong yang kami lihat sudah dipesan orang. Tapi salah satu pelayan kemudian mempersilakan kami masuk ke ruangan yang warna lampunya bagai 5 watt. Aku sungguh heran, restoran mewah ternyata tak kuat bayar listrik. Dan di sana kami duduk di meja panjang yang nampak baru dan taplaknya seperti baru dicuci; bersih dan rapi. Suasana resto bergaya Italia ini membuat kami saling memandang satu sama lain kebingungan. Suasana hati kami makin berubah keruh saat pelayan memberikan daftar menu. Perut yang keroncongan dan harga menu yang melangit membuat kami tertawa sendiri. Sudah 15 menit berlalu, tak ada satupun dari kami yang memesan makanan. Akhirnya, salah seorang berkata, "kita batalin dulu puasa kita, pesen minuman satu-satu dan kita pesen pizza besar satu untuk semua orang. Setelah itu, baru kita pergi dan nyari makanan di tempat lain."
Ide bagus! Meski harus menahan malu, kami segera memesan minuman dan tidak mengindahkan wajah bingung pelayan saat dari 10 orang ini, hanya 1 orang yang pesan pizza.

Esok paginya, sebelum wawancara, mbak Rianti memberikan kami briefing sambil memberikan kami DS2019 asli yang dikirim dari Amerika. “Jawab saja secara jujur apa yang mereka tanyakan; jangan berbohong, juga jangan memberikan informasi yang tidak mereka tanyakan,” begitulah petuah mbak Rianti. Padahal, aku sudah berencana menanyakan bagaimana caranya agar bisa jadi cewek paling popular seantero kampus ke pewawancara. Setelah wawancara selesai, kita akan diberikan salah satu dari 3 kartu; putih berarti disetujui, kuning berarti dipertimbangkan, merah berarti ditolak.
Menunggu di depan Kedubes Amerika

Meski jadwal wawancara jam 2, tapi jam 12.30 siang kurang kami sudah standby di luar. Karena jadwal wawancaranya masih lama, kami tidak diperbolehkan masuk. Terpaksa menunggu di luar, di tengah terik mentari saat bulan puasa. Saat jam menunjukkan waktu 1.30, seorang security memanggil kami dan mempersilakan masuk. Sebelum masuk kompleks kedutaan, pengecekan ketat harus dilalui. Semua alat elektronik harus dititipkan di loker. Tidak boleh ada makanan maupun minuman. Kalo nanti kita lapar, kita bisa makan pagar besi yang mengelilingi kompleks kedutaan. Meski jadwal wawancara jam 2, tapi ada 10 orang yang memiliki jadwal yang sama sehingga kami menunggu bergiliran sambil duduk santai, meski aslinya hati berdebar. Saat pertama kali dipanggil, kami diminta menyerahkan passport asli, DS2019, confirmation page of DS160 dan KTP/SIM. Semuanya diambil petugas kecuali KTP. Barulah saat pemanggilan kedua, wawancara dimulai. Wawancara berlangsung singkat, hanya sekitar 5 menit. Pertanyaan yang diajukan standar saja; bahkan anak TK juga bisa menjawab.

“Apa yang akan kamu lakukan di Amerika?”
“Saya mau kuliah sastra Inggris di Central Michigan University”
“Pekerjaan sekarang apa?”
“Mengajar di STAIN Pekalongan”
“Kontribusi apa yang akan kamu berikan sepulangnya dari studi?”
“Saya akan nyaleg untuk DAPIL Luar Negeri untuk membela nasib TKI.”
“OK, visa kamu disetujui. Silakan ambil di hari yang tertera di kartu.”
“Thank you!”
"Good luck!" balas sang interviewer.

Beres sudah. Kartu putih sudah di tangan. Semua kartu diserahkan ke Aminef secara kolektif karena untuk urusan pengambilan visa, Aminef juga yang menanggung. Sore itu juga aku langsung pulang kampung.

11 Juli-Keberangkatan

Esoknya beli koper besar sekaligus belanja bahan makanan dan obat-obatan yang tidak ada di Amerika, seperti obat bisul salep 88 dan Kalpanax.
Tiga hari setelah visa, keluarga ikut mengantar hingga ke Semarang. Karena jadwal pesawat yang diberikan AMINEF pagi buta, maka kami berangkat dari Batang jam 2 pagi. Sampai di bandara Semarang, aku hanya sempat solat subuh lalu segera check-in untuk memasukkan bagasi. Baru saja keluar lagi untuk memeluk anakku yang cantik, pesawatku sudah hendak boarding! Lion Air memang aneh, kalau pagi, ia teramat rajin, bahkan belum waktunya terbang, sudah ngacir dulu. Tapi kalau jadwalnya malam, duuuuh..jangan tanya ngaretnya.

"Perhatian, pesawat dengan nomor penerbangan JT511 harap segera menaiki pesawat."


Terakhir kali kugendong badan mungilnya
Aku panik, aku masih ingin menggendong Ayesha, tapi perempuan di speaker itu memanggil lagi. Mau tak mau, aku harus mulai berpamitan satu persatu terhadap orangtua dan mertua. Mamah, yang seumur hidupku tak pernah terlihat menangis, tak kuasa menahan airmatanya dan memelukku erat. Akupun mulai terhanyut dan teringat betapa aku akan merindukan wanita tangguh yang teramat berarti segalanya bagiku. Bapak, lelaki yang tak banyak berbicara memelukku sebentar sambil komat kamit melayangkan doa. Ibu mertuaku pun melepasku dengan airmata karena menantunya yang paling cantik ini akan menghilang. Ayesha kecilku yang baru berumur setahun, meski ia tak mengerti maksud dari adegan tangis-menangis ini, ia bisa merasakan atmosfir haru biru ini. Apalagi setelah melihat airmataku yang menggenang, ia tak mau melepaskan gendongannya dariku. Rasanya ingin kubawa serta gadis cantikku ini, namun aku sadar akan pilihan yang telah kubuat ini sejak tahun lalu. Aku hanya bisa berdoa, semoga Ayesha mau memaafkan Mamanya yang egois dan tak bertanggungjawab ini.

Dengan pandangan yang kabur akibat airmata yang tak mau berhenti, aku berlari mengejar pesawat yang pintunya sudah dibuka. Saat berhasil menemukan tempat dudukku, aku langsung menangis sejadi-jadinya. Ibu muda di sebelahku memandangku diam-diam. Naluri keibuannya akhirnya membuat ia memutuskan untuk meredakan kesedihanku.
"Kenapa, mba?" tanyanya dengan wajah yang ikut berduka sambil memberikanku tissue.
Kuraih tissuenya dan segera kuusapkan airmata yang mulai membasahi kerudungku.
"A..aku..harus ninggalin anak..masih kecil..huhu..ga bakal ketemu dua tahun..huhu.."
"Sabar ya mba..pasti rasanya sedih banget..tapi mba beruntung nanti masih bisa ketemu lagi. Sebulan lalu anak saya yang baru berumur 2 minggu meninggal..saya ga bisa ketemu dia lagi selama-lamanya.."
Aku terkesiap. Kesedihanku langsung menguap seketika. Aku merasa teramat beruntung karena suatu saat nanti masih bisa bertemu lagi dengan Ayeshaku yang cantik. Allah telah mengingatkanku bahwa ada banyak orang yang memiliki kesedihan dan kepedihan berlipat ganda dan jaaauuh lebih berat dariku.
Meninggalkan anak adalah suatu perbuatan yang disadari oleh semua para ibu sebagai hal yang paling tidak bertanggungjawab sekaligus keputusan terberat. Tidak ada seorang ibu yang mau meninggalkan anaknya, jika merasa bisa memilih. Olehkarenanya, terkadang aku kesal jika ada orang yang menulis bahwa seorang ibu yang baik adalah yang mencurahkan semua waktu, pikiran, kasih sayang dan tenaganya untuk anaknya semata. Oooh..tidakkah ia merasakan posisi dimana ia harus, terpaksa, dan demi kebaikan anaknya sendiri, ia harus pergi dan meninggalkan buah hatinya?
Ya, jika bisa memilih..semua orang pasti ingin memilih yang terbaik untuk mereka dan keluarganya. Namun, setiap pilihan memiliki konsukuensi masing-masing, baik dan buruknya, selalu mengikuti. Apapun itu yang kita jalani, keluarga adalah alasan kita tetap berdiri dan berlari menyongsong mentari.

Michigan,
31 Oktober 2014
Artikel Terkait

15 komentar :

  1. subhanallah...kisahnya , ada harunya,ada kocaknya,romantisnya,yg pasti inspiratif jadinya .Plus plus pkoknya.Sukses terus ya bu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mkasih udah mampir.... doakan semoga saya makin semangat menulis! ganbatte!

      Hapus
  2. subhanallah it's amazing that mba, wah sya pngen jga bsa kluar negri lo mba, hrapan msa kcil, sbuah mmpi yg blum ksmpaian, doain sukses kya mba yaa;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo mba...semangat terus...meski sulit,.tapi ga mustahil lo... :) good luck yah!

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. k imas hebat banget .... semoga aja saya bisa ikut jejaknya k imas istiani :) mimpi banget saya :/
    hebat kak, saya suka banget lo, baca blog ini :) :)
    di Undip jurusannya apa klo blh tw k'?

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan mimpi doang dong...ayo bangun!!! semangat ya!! Saya ambil linguistik di undip, tapi ga lulus..heheh

      Hapus
  5. wow ini kisahnya keren banget, serasa baca cerpen inspiratif. Oh ya nama saya William. Saya berencana untuk melamar beasiswa Fullbright setelah lulus S1. Wish me very luck :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayooo...lamar!!! semoga berhasil yah!!

      Hapus
  6. Mbak Imas, bolehkah saya bertanya, mbak dulu sebelum berangkat ke US, untuk medical check up nya dimana? maturnuwun sanget.. (~_~)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hi bunga.. saya dulu muter2 se-pekalongan, kebanyakan di RSUD kraton pekalongan

      Hapus