Tampilkan postingan dengan label beasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label beasiswa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Juli 2014

Berburu Beasiswa ke Amerika Part 5 (PDO, VISA)


Kawan, sudahkah kau baca kisahku dalam Part 4 mengenai musim kelabu akan penantian yang menggebu? Jika sudah, baiklah… kulanjutkan kisah piluku itu.
 
30 April
Daripada menggantungkan hidup pada kepastian namun sepertinya tidak pasti, aku segera melangkahkan diri pada tindakan nyata; mengurus cuti Undip. Andaikata tak ada kampus Amerika sana yang mau menerimaku, setidaknya aku bisa kembali pada pelukan Mas Undip meski ia pernah kuabaikan satu semester lamanya. Ditemani suami dan sepeda motor tua, kami merayapi pantura dari Batang menuju Semarang sejak dini hari.
Dari mulai staff jurusan, staff fakultas, hingga ketua jurusan bertanya mengapa aku mengambil cuti. Kujawab saja, “masalah ekonomi." Memang, pada saat itu, dunia perdompetanku sedang tipis setipis-tipisnya. Untuk makan saja, aku dan suami harus makan sepiring berdua; dan biasanya nambah hingga tiga kali.

1 Mei
26 tahun yang lalu aku dilahirkan di tanggal ini. Semestinya hari ini membahagiakan; setidaknya kejutan spesial dari suamiku. Pagi buta saat ku buka mata; aku terkejut karena tak ada kejutan, tak ada kado, tak ada kue; yang ada hanya lilin bekas mati lampu. Suamiku hanya mengucapkan selamat ulang tahun sambil sepintas lalu. Kubuka Facebook; dari puluhan ucapan yang berdatangan; suamiku tak menulis apapun di dindingku! (Yang kusadari kemudian; kenapa dia harus menulis di dindingku kalau kami tinggal sedinding dan seatap?)
Oh…hanya itu saja kah? Di hari spesial ini, harusnya ia menghiburku! Ia yang paling tau betapa remuk redamnya mimpi yang sempat kubingkai. Ia yang paling mengerti mengapa terkadang pandanganku seakan menerawang. Ia yang melihatku setiap jam membuka email, berharap kabar baik itu datang. Ia yang langsung memahami mengapa emosiku terkadang naik turun dan moodku seringkali jatuh ke jurang terdasar.
Dan seharian itu aku memantapkan hati dan berniat secara sungguh-sungguh dan menyeluruh untuk tidak berbicara setengahpatahkatapun padanya.
Namun, saat paginya berniat seperti itu, siangnya tiba-tiba aku melihat bungkusan kado di kamar. Ingin rasanya mengucapkan terimakasih. Tapi….karena sudah niat ngambek seharian, aku melanjutkan aksi mengunci mulutku; kecuali untuk makanan (bahkan saat gosok gigipun aku tutup mulut).

2 Mei
Di Jumat siang yang panas ini,
Dear Imas,
I am pleased to inform you that you have received official admission to the Master’s program in American Literature at Southern Illinois U, Edwardsville. Congratulations!
ALHAMDULILLAH….

Jumat, 20 Juni 2014

A – Z PERBURUAN BEASISWA


A : Allah, Alhamdulillah, AMINEF, Amerika, Anugerah
Alhamdulillah, Allah telah menganugerahkanku beasiswa S2 ke Amerika melalui yayasan AMINEF.
B : Belajar
Belajar adalah tujuan utamaku. Jalan-jalan dan bersenang-senang adalah konsekuensi tak terhindarkan dalam mencapai tujuan utama.
C : Cemas Capek Capi Cecep Ceria
Karena proses perburuan ini memakan waktu hingga setahun, rasa capek akan penantian dan cemas akan kepastian menghinggapi hati ini. Namun, apapun yang terjadi, harus tetap optimis sekaligus pasang wajah yang cecep ceria!
D : Do’a
Senjata orang yang beriman adalah do’a.  Jika kita memiliki senjata, maka kita siap menghadapi musuh yang menghadang. Namun, senjata doa harus diasah dengan usaha agar tidak tumpul.
E :  Education
Senator Amerika, William Fulbright menyatakan bahwa "Education is a slow moving but powerful force. Pendidikan secara perlahan memiliki cara terdahsyat untuk mendamaikan dunia. Hal ini senada dengan novel Three Cups of Tea yang didasarkan dari pengalaman nyata Greg Mortenson di Pakistan. Mortenson menyadari bahwa untuk mempromosikan perdamaian dunia, pendidikan adalah misi terhebat.
F : Fulbright
Oleh karena Senator William Fulbright mengalokasikan sejumlah besar anggaran pemerintah untuk pendidikan, itulah mengapa beasiswa ini disebut Fulbright Scholarship.
G : Going the Extra Mile
Ungkapan ini sejalan dengan tagline beberapa iklan motor yaitu Selalu Di Depan dan Selangkah Lebih Maju. Going the Extra Mile kurang lebih berarti di manapun ataupun posisi apapun kita berada, pencapaian kita sebaiknya di atas rata-rata. Jika kita adalah mahasiswa, maka alangkah baiknya jika kita tidak hanya mengerjakan tugas yang ditugaskan, namun memperkaya diri dengan ilmu yang bisa didapat dari sumber lain. Jika kita adalah salesman, bos pasti akan memuji atau bahkan memberi bonus jika pencapaian penjualan melebihi dari target. Jika kita adalah ular, maka jadilah ular python yang berbadan sebesar pohon kelapa agar musuh langsung mengkeret saat melihat kita. Karena saya adalah seorang anak, saya berharap orang tua bangga dan tak menyesal telah melahirkan saya. Karena saya adalah seorang ibu, saya berharap anak saya memiliki ibu yang bisa ia andalkan untuk meniti kehidupan bersama. Karena saya adalah seorang istri, saya pastikan suami saya melangkahi macan hidup jika minta nikah lagi. Yang terakhir ini serius!
H : Hidup
Live your life to the fullest!
I : Impian
Kuliah gratis ke luar negeri adalah impianku sejak kecil yang dulu terasa amat mustahil. Sedangkan impian masa remajaku adalah bernyanyi duet dengan Ariel NOAH. Mustahil juga kah?
J : Jakarta
Setidaknya aku harus bolak-balik Jakarta 3 kali. Tes GRE umum, GRE Sastra dan wawancara visa.
K : Konsekuensi
Life is about how to deal with the consequences of the choices that you choose!
Konsekuensi dari pergi kuliah lagi adalah berhadapan kembali dengan dosen-dosen yang akan menimpukiku dengan buku-buku yang wajib dibaca dan tugas-tugas yang harus dilakukan.
L : Letter of Reference
Surat referensi atau surat rekomendasi merupakan salah satu perlengkapan administrasi beasiswa. Surat ini bisa kita minta ke dosen atau atasan jika kita sudah bekerja. Saat melamar, hanya dibutuhkan satu saja, namun jika kita sudah terpilih sebagai kandidat, AMINEF akan meminta tambahan 2 surat rekomendasi.
M : Muhammad Sodiqur Rifqi
Makhluk Tuhan paling tampan yang manis luar dalam. Ia bagaikan kopi bali yang membuatku ketagihan dan melek sepanjang hari. 5 tahun yang lalu, saat kami baru saja mengikat hati, aku harus meninggalkannya setahun ke Amerika. Ia dengan sabar dan setia menungguku. Sebentar lagi, aku juga harus meninggalkannya dengan alasan yang sama ke negara yang sama. Susul aku secepatnya, sayang….!

Sabtu, 10 Mei 2014

Berburu Beasiswa S2 ke Amerika Part-4 (The Black Hole)

The Black Hole (Placement Process)
Kebanyakan dari kita sering kali ingin memiliki mesin waktu agar bisa loncat ke masa depan maupun mundur ke masa lalu. Saat yang sedang kita miliki saat ini, masalah yang sedang kita hadapi saat ini, selalu terasa begitu berat sehingga kita mengandai-andai bisa segera melewati saat ini.

Dulu, aku begitu galau dengan statusku yang terasa amat kacau balau. Menjadi istri, ibu, dosen di 3 kampus, mahasiswa sekaligus pengejar beasiswa dalam waktu yang bersamaan membuatku seakan ingin meledak. Ingin rasanya segera melewati momen itu dan berada di masa sekarang.

Sekarang, meski beban mengajarku berkurang, cuti kuliahpun ku ambil, bisa bersama anakku sehari semalam dan semua tes-tesan yang menguras otak dan pikiran, ternyata aku masih saja galau dan kacau. Masalah lama telah teratasi dan berlalu, namun, masalah baru kini mulai bermunculan.

Langkah terakhir dalam usaha mendapatkan beasiswa ke Amerika untuk Master Degree adalah Placement Process, yaitu tahap dimana IIE (Organisasi yang menguruskan beasiswa di US) mendaftarkan kita ke 4 universitas (bagi S2). Tahap ini memakan waktu yang sangat lama, mulai dari bulan Desember hingga Juni. Setengah tahun digantung, boooo!!!! Placement Process memiliki julukan tersendiri, yaitu The Black Hole. Tau kan lubang hitam? Konon katanya di angkasa raya ada lubang bueeeesaaaarrr berwarna hitam yang dapat menyedot benda-benda di sekitarnya; dan plup! Hilang begitu saja, dimakan si Lubang Hitam. Begitu pula Placement Process ini. Segala usaha yang telah kita lakukan, dari mulai mengirimkan lamaran, wawancara, overdosis karena tes, pengumpulan dokumen2, semuanya terasa hilang tak berbekas! Ya, dalam rentang waktu yang lama, kita tak dapat berbuat apa-apa selain menunggu dan menunggu kabar dari IIE, baik maupun buruk.

Umumnya para kandidat akan mendapatkan kabar penerimaan di bulan Maret hingga pertengahan April. Namun, beberapa kandidat yang apes harus menunggu hingga detik-detik terakhir penerimaan. Sialnya, salah satu kandidat apes tersebut adalah aku! Oooohh…nooo…
Jadi, beginilah kronologisnya saudara-saudara….

Jumat, 02 Mei 2014

Berburu Beasiswa S2 ke Amerika Part-3 (Overdoses of Tests)



Setelah wawancara beasiswa yang kacau dan memalukan,  aku tak berani berharap banyak bisa mendapatkan beasiswanya. Tapi, tanganku selalu refleks membuka email tiap kali membuka laptop. Meski jelas-jelas Pak Piet berkata bahwa pengumuman selanjutnya akan diinformasikan akhir Agustus, tapi aku mulai mengecek emailku dari awal Juli. Di satu sisi, aku yakin tidak diterima, namun di sisi lain, aku masih mengharapkanmu, oh beasiswaku sayang…. Hingga akhirnya, suatu sore sebelum solat ashar, aku melihat email ini; email yang membuat sholatku tidak khusyu’ (emangnya biasanya khusyu???).

August 29, 2013
Dear Ms. Istiani,
Congratulations! I am extremely pleased to inform you that you have been officially nominated as a principal candidate for a Fulbright scholarship to pursue study for a Master’s degree in the United States commencing with the Fall 2014 academic term.  Official and final selection for this prestigious program is contingent upon the approval of the J. William Fulbright Foreign Scholarship Board (FSB) in Washington, D.C., the amount of scholarship funds available for the 2014 Fulbright program, and your acceptance for admission by an accredited college or university in the United States.

Oh oh oh…. ALHAMDULILLAH!!! AKU DITERIMA!!! AKU KANDIDAT UTAMA!!!
Rasanya aku memiliki dua sayap yang besar dan lebar yang siap mengantarku ke langit ketujuh! Namun, baru nyampe langit kedua, tiba-tiba aku merosot kembali ke bumi demi melihat keseluruhan isi email!
Menjadi kandidat utama tidak bisa dijadikan jaminan 100% pasti berangkat ke Amrik. Masih ada banyak proses yang harus dilewati lagi yaitu beberapa tes; tes IBT, tes GRE umum, tes GRE Literature dan tahap terakhir yaitu Placement Process. Ok, IBT dulu pernah kuikuti. Setidaknya punya gambaran. Tapi, GRE? Tes apakah itu? Setelah kucari-cari informasinya, ternyata GRE adalah tes yang harus diambil oleh orang yang ingin kuliah master dan doctorate level di Amerika. Melalui hasil GRE inilah, kampus bisa menilai kemampuan akademis pelamarnya. Beruntungnya, semua tes dibiayai AMINEF! Padahal harga tes-tes itu lumayan mahal; satu tes aja bisa mencapai 2 jeti boooo!

Minggu selanjutnya aku mendapatkan jadwal untuk tes-tes tersebut. iBT di akhir September, GRE umum di awal Oktober dan GRE Literature di pertengahan Oktober. Oh Tuhan..jeda waktunya mepet-mepet sekali…satu bulan untuk 3 tes yang super duper sulitnya bagaikan menegakkan benang letoy. Bagaimana aku bisa membagi waktu antara belajar 3 tes itu, mengajar di 3 kampus, kuliah S2 di Undip, mengasuh anak sekaligus melayani suami?
Baiklah saudara-saudara…inilah kisah kasihku yang rumit dengan tes-tes yang membuai perasaan dan memabukkan pikiran sehingga aku overdosis karena mereka.

TES IBT(Internet Based TOEFL)
Untuk melamar kuliah di Amerika, bagi non-native speaker, tentu membutuhkan tes yang mengukur kemampuan Bahasa Inggris agar nanti saat kuliah tidak bengong kemasukan lalat gara-gara tidak mengerti dosennya ngomong apa. Standar skor untuk mendaftar S2 setidaknya 90. Namun, untuk bidang studi yang terkait dengan humaniora, setidaknya mendapat nilai 100 ke atas.

Oh, no!!! bisakah aku dapat 100???? Dulu, score iBT-ku sangat-sangat mengerikan!!! Berarti aku harus melipat gandakan kemampuan Bahasa Inggrisku. Tapi masalahnya cukup klasik; aku hampir-hampir tidak memiliki waktu luang! Jangankan untuk belajar tes, untuk memotong kukupun aku tidak sempat! Terhitung mulai September awal, aku resmi jadi mahasiswa linguistik S2 di Undip. Dulu, aku tidak yakin bisa mendapatkan beasiswa ini. Jadi, daripada membuang waktu, akhirnya aku memutuskan untuk kuliah S2 dengan biaya sendiri. Dan, dilemma pun dimulai…

Seperti inilah jadwalku dalam seminggu;
Senin - Rabu = mengajar dari pagi jam 7 hingga jam 10 malam.
Kamis = jam 3 pagi bangun, pergi ke Semarang. Kuliah jam 8 pagi hingga 6 sore.
Jumat = kuliah dari jam 9 pagi hingga jam 6 sore. Balik ke Pekalongan jam 7 malam.
Sabtu & Minggu = mengurus anak sambil menyiapkan materi mengajar dan mengerjakan tugas kuliah.

Ibu mana yang tega meninggalkan bayinya di pagi buta jam 3?
Yang membuatku merasa miris adalah anakku belum berusia 6 bulan saat itu. Masih ASI eksklusif, tapi harus ku tinggal-tinggal. Di sela-sela waktu kosong saat Yesha tidur, aku memompa ASI untuk stok saat kutinggal mengajar maupun kuliah. Sebenarnya ada jalan yang lebih mudah, yaitu susu formula. Tapi, aku merasa menjadi ibu yang buruk karena tidak memiliki waktu untuk Yesha. Setidaknya, dengan ASI ekslusif ini, aku berusaha memberikan yang terbaik untuknya.

Perjuangan berat lainnya adalah tiap kamis jam 3 pagi aku harus membangunkan suamiku untuk mengantarkanku ke Semarang. Dengan menembus pagi yang masih teramat gelap dan dingin, mata yang kantuk dan badan yang lelah sering membuatku hampir terjatuh dari motor yang kami kendarai. Suamiku harus selalu mengoceh sepanjang jalan mengajakku ngobrol agar aku terbebas dari kantuk. Sesampainya di Semarang, biasanya jam 6 pagi, kami sarapan di warung favorit kami yang membolehkan kami mengambil nasi dan lauknya sebanyak mungkin dengan harga yang semurah mungkin. Selesai sarapan, aku langsung ke kos untuk mengambil buku kuliah dan siap untuk belajar, sementara suamiku langsung balik lagi ke Pekalongan.

Sabtu, 01 Maret 2014

Tips Menulis Study Objective untuk Aplikasi S2 AMINEF



Tulisan ini saya dasarkan pada pengalaman saya dalam menulis study objective, yang Alhamdulillah bisa mengantarkan saya pada tahap selanjutnya, yaitu wawancara. Berikut ini tips yang bisa saya bagi pada kawan semua:
1.      Fokuskan pada kajian studi yang anda minati, makin spesifik makin baik. Misal, jika anda ingin belajar sastra, jangan hanya menyatakan bahwa anda ingin belajar sastra amerika secara global (karena teramat luas). Tuliskan bahwa anda tertarik untuk mengkaji sastra karya keturunan cina-amerika, terutama yang kaitannya dengan dualisme identitas.
2.      Semisal anda ingin mengkaji sastra cina-amerika, carilah informasi mengenai penelitian atau karya tersebut yang dilakukan oleh para professor universitas di Amerika. Hal ini untuk menguatkan bahwa minat studi Anda akan tercapai dengan baik di Amerika karena adanya jurusan yang sesuai. Tapi, jangan tuliskan nama kampus tertentu, cukup disiratkan saja bahwa beberapa kampus di amerika memiliki konsentrasi yang sesuai minat anda.
3.      Kaitkan minat studi anda dengan pengalaman anda sebelumnya, apa yang sedang anda lakukan, dan apa yang akan anda lakukan sepulangnya dari AS. Pihak beasiswa ingin agar para penerima beasiswa benar-benar memberikan sumbangsih sekembalinya dari belajar nanti.
4.      Meski hanya selembar, tapi study objective yang bagus akan memakan banyak waktu, tenaga dan pikiran. Oleh karenanya, sediakan waktu luang setidaknya satu jam sehari (dengan asumsi Anda masih memiliki waktu sebulan untuk melakukannya).

Sabtu, 22 Februari 2014

Berburu Beasiswa S2 ke Amerika Part-2 (Wawancara Oh Wawancara)




Di suatu senja pada tanggal 3 bulan Juli 2013, iseng aku membuka email. Hei…ada yang baru masuk!

We are pleased to inform you that the AMINEF selection committee has finished their review on the Fulbright Master’s Degree Program applications, and would like to consider you for an interview which is tentatively scheduled on Tuesday, July 16, 2013, in Yogyakarta.

Wah…aku langsung pengen loncat-loncat! Tapi ooppss!!! Aku sedang ada di depan kelas, mahasiswaku sedang mengerjakan tugas yang barusan kuberikan, dan aku sedang berpura-pura mereview materi;padahal lagi internetan! (don’t try this at home!)
Tak ingin buang kesempatan, aku langsung membalas bahwa aku bersedia untuk melakukan interview. AMINEF kemudian menanyakan berapa ongkos transportasi PP dari Pekalongan-Yogya. Mereka juga akan mengganti akomodasi hotel jika aku menginap di Yogya.

Sebelum Hari H
Karena aku memiliki bayi yang baru berumur 3 bulan yang masih ASI eksklusif; rencana perjalanan dari Pekalongan-Yogya yang memakan waktu sekitar 5 jam tentu harus dipikirkan matang-matang. Setelah berdiskusi dengan suami, kami memiliki beberapa rencana.
1.    Sebelum hari-H, aku ke Yogya menggunakan travel. Yesha dan otomatis suami ikut serta. Kami menginap di hotel yang tidak jauh dari tempat wawancara.
Kelebihan : aku tidak perlu khawatir tentang ASI untuk Yesha.
Kekurangan : biaya membengkak karena harus menginap di hotel, transport travel PP untuk aku dan suami, plus biaya makan.
2.    Sebelum hari-H, aku ke Yogya sendiri dan menginap di hotel.
Kelebihan : lumayan lebih ngirit biaya daripada rencana no.1
Kekurangan : aku harus menahan rasa sakit karena Yesha tidak menyusu selama 2 hari (yang pernah menyusui pasti tau rasa sakitnya yang dahsyat dan luar biasa). Selain itu, aku harus mulai stock ASI berbotol-botol untuk simpanan 2 hari.
3.    Berangkat subuh pada hari H dengan menggunakan motor bersama suami; tidak ada travel yang berangkat subuh. Karena wawancara jam 1 siang, maka kami bisa berangkat pagi-pagi buta.
Kelebihan : stock ASI cukup untuk 1 hari. Biaya jauh lebih hemat dari no.1 dan no. 2
Kekurangan : karena naik motor selama 5 jam, tentu aku akan kelelahan dan ngos-ngosan saat tiba di tempat wawancara.
Akhirnya kami putuskan untuk mengambil rencana no.3! Selain hemat biaya, juga tidak perlu stock ASI yang banyak. Meski biaya dan hotel ditanggung AMINEF, tapi itu hanya berlaku untuk 1 orang saja.

Kamis, 20 Februari 2014

BERBURU BEASISWA S2 KE AMERIKA (Formulir Aplikasi dan Study Objective, part-1)



Menjadi dosen yang baru bergelar S1 itu sungguh menyedihkan. Ibaratnya jeruk makan jeruk. Masa mahasiswa S1 diajar dosen yang baru S1 juga? Ingin lanjut study, tapi biaya gak mumpuni. Akhirnya ku cari berbagai beasiswa S2 yang memungkinkan kucoba. Chevening di Inggris dan ADB di New Zealand? Work experienceku belum ada 2 tahun. Erasmus mundus di Eropa? Aku gak punya IBT maupun IELTS. Yang memungkinkan adalah AMINEF (Amerika) dan ADS/AAS (Australia).

Study Objective
Formulir aplikasi AMINEF untuk beasiswa S2nya sungguh membuatku tercengang. Hanya 4 lembar! Itupun yang perlu diisi hanya teramat sangat sedikit sekali (super lebay). Bandingkan dengan milik ADS yang mencapai 30 lembar!

Namun yang membedakan adalah study objective-nya. Apa sih study objective itu? Secara harfiah, study objective adalah tujuan belajar yang biasanya diminta oleh universitas untuk mengetahui seberapa kuat keinginan belajar calon mahasiswanya. Kurang lebih study objective untuk aplikasi AMINEF berisi: Apa yang ingin kau pelajari di Amerika? Mengapa kamu ingin mempelajarinya di Amerika? Skill apa yang ingin kamu kuasai? Apa kaitannya dengan pengalamanmu sebelumnya? Bagaimana dengan rancanganmu ke depan nanti setelah lulus S2 di Amerika?

Jumat, 08 November 2013

Perjuangan Menggapai Beasiswa AMINEF (Global UGrad) Part-2 (Tes Wawancara)


Setelah tahapan pengiriman aplikasi (akhir Oktober), tahapan penantian berakhir sebulan kemudian saat surat undangan wawancara hinggap di rumahku. Pihak AMINEF juga mengkonfirmasi ulang melalui email. Sepengetahuanku, dari Semarang, 5 orang dari Unnes, dan 1 orang dari Undip. Tempat wawancara di Jakarta, waktunya awal Desember. Dan yang bikin beasiswa ini teramat keren adalah kami diberikan tiket terbang dr Semarang-Jakarta PP, hotel untuk menginap, plus uang transport dan makan selama di Jakarta! Wuiih...joooosss gandossss!!! Pokoknya yang perlu kita siapkan adalah mental! Masalahnya, aku belum pernah ikut wawancara!!!

Sebelum Wawancara....

Untuk mempersiapkan diri, aku cari tips2 wawancara di internet. Lumayan membantu. Seperti ini kira-kira tips yang aku dapatkan:
1. Aplikasi
Baca kembali aplikasi yang sudah dikirimkan! Interviewer yang notabene tidak mengetahui apapun tentang interviewee otomatis akan menjadikan aplikasimu untuk bahan dasar pertanyaan mereka. Jadi, sedari pengisian aplikasi, kejujuran dan ketelitian sangat diperlukan agar tidak ada kontradiksi hati saat menjawab interviewer nanti. Usahakan untuk mengisi segala sesuatunya oleh kita sendiri; hal ini untuk merefleksikan kepribadian dan pemikiran kita melalui aplikasi secara utuh dan jujur.
2. Pakaian
Kenakan pakaian yang semi-formal dan rapi. Karena dalam wawancara ini posisiku sebagai mahasiswa, berpakaian seperti orang kantoran tentu tidak bagus juga. Maka kubayangkan nanti dresscode-ku ala mahasiswa yang rajin ikut seminar (entah, maksudnya apa). Hindari juga mengenakan perhiasan berlebih, aksesoris mencolok maupun make-up heboh. Kalo bisa, pakailah make-up artis (ituloh..kaya artis baru bangun tidur, rambut rapi, bibir merah, pipi merona:) ).
Malangnya, untuk masalah baju, di lemariku hanya ada kaos oblong, rok gombrong dan sarung solat kotak-kotak. Warnanya pun sangat pelangi, tidak ada warna yang senada. Aku pasrahkan masalah pakaian pada orang tua. Mereka lalu mengirimkan lewat pos sepaket baju wawancara: celana panjang hitam berbintik abu-abu dan kemeja panjang abu2 bergaris coklat. Saat ku kenakan, untuk orang yang selalu berbaju longgar, celana dan kemejanya ternyata agak kekecilan. Sepertinya orang tuaku mengira bahwa selama aku di pesantren, aku jadi tambah kurus kekurangan makan. Padahal, selain makan sehari 2 kali di pesantren, aku juga rajin silaturrahmi ke warung2 di sekitar kampus.
3. Latihan
Pertanyaan dalam wawancara akan berkisar terhadap masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Masa lalu berkisar pada background study atau jika ada, riwayat pekerjaan dan organisasi. Masa kini berkisar mengenai study apa yang sedang ditempuh? Mengapa tertarik dengan beasiswa ini? Sedang aktif di organisasi apa? Dan bagian yang terpenting adalah rancangan ke depan. Jika kita mendapatkan beasiswa ini, apa yang akan kita lakukan di Amrik? Apa yang ingin kita pelajari dan lebih kita dalami di sana? Kontribusi apa yang akan kita berikan pada masyarakat sekitar? Bagaimana dengan kelanjutan studymu? dll. Jadi, yang aku lakukan adalah membuat daftar pertanyaan yang kiranya akan diajukan, lalu menjawab daftar pertanyaan tersebut. Setelah itu, berlatih berulang-ulang sampai hafal di luar kepala.

Sabtu, 06 Juli 2013

Perjuangan Menggapai Beasiswa AMINEF (Global UGrad) Part-1


Saat mulai apply S2 kemana-mana, otakku mulai mengorek-ngorek kenangan lampau 5 tahun yang lalu, dimana saat itu aku berjuang hingga berdarah-darah untuk mendapatkan kesempatan study exchange ke US.
Sekitar satu semester sebelumnya, di kampus ada gossip bahwa aku akan pergi ke Amrik. Aku tak tau wartawan infotainment mana yang menyebarkannya. Setelah aku telisik dan kroscek, ternyata info aslinya berbeda jauuuuh. Temanku, Jane, akan pergi ke Korsel selama sebulan. Bukan Amerika, bukan pula aku, huhu. Pada saat itu, K-Pop mulai booming. Kontan saja aku jealous bin irrrriii…

Kalau tidak salah pada bulan Juli 2008, aku melihat ada pengumuman study exchange ke US di kampus, segera saja aku mencari formulirnya. Deadlinenya masih lama, yaitu November. Tapi aku tidak ingin penyerahan aplikasiku mepet waktu, oleh karenanya sejak bulan itu aku telah menabuh gendrang perjuanganku. Pengisian application formnya tidaklah terlalu ribet, hanya saja dokumen yang menyertainya lumayan bikin kepala mumet. Ada TOEFL minimal 500, 3 surat rekomendasi, essay, dan passport! Inilah perjuangan lahir batinku dalam mendapatkan beasiswa study exchange ke negeri penuh impian tersebut!

Senin, 24 Desember 2012

Going to London for Free!


Many people ask and wonder how to study English effectively. They seem too lazy to memorize all those strange and new vocabularies, too bored to study grammar, too hard to try speaking, and too difficult to listen to native speaking.
As to my experience; at first I thought English in the same way as many people think. However, I found it that language is a matter of custom;  a custom we have to live our daily life with it. So, learning English is not merely receiving what we get from our teachers in class. It’s about using it in our real life. The other question that may come next is “then how we practice English while we live in the world where English is not our first language?”.
Oh, come on dude! Haven’t you heard that English is an international language? You can find English everywhere around you; you don’t need to be in London to find people speaking English.
Let me show you how to make yourself as if you were in London or New York!

Minggu, 25 April 2010

AS: Antara Harapan dan Kenyataan


Di salah satu apartemen kampus Humboldt State University, 5 mahasiswa dari 5 negara berkumpul-kumpul setelah kekenyangan ice cream, Minggu malam,(9/11). Niat awal untuk belajar tergantikan sejenak oleh ngobrol ngalor-ngidul sekitar kehidupan mereka di Amerika Serikat. Saw Htet Aung Khant (18) yang berasal dari Burma merasa mendapatkan kesempatan yang begitu besar ketika ia lolos beasiswa World Learning untuk program Global Undergraduate. Cita-citanya untuk menjadi guru bahasa inggris terasa lebih mudah karena kini ia bisa belajar bahasa inggris sekaligus mempraktikannya tiap saat. “Selain jurusan Sosial, di universitasku Bahasa Inggris adalah salah satu jurusan terpopular. Aku suka bahasa Inggris karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional. Jika kamu ingin berkembang, kamu harus bisa bahasa Inggris,”ungkap Saw ketika ditanya mengapa ia tertarik menekuni bidang ini, padahal nilai UANnya terhitung tinggi, ia bisa saja masuk jurusan lain yang dianggap lebih bonafide di negerinya, seperti insinyur teknologi. “Aku hanya merasa aku cocok dengan jurusan ini,”jelasnya kemudian. Awalnya ia akan diberangkatkan untuk semester musim semi Januari nanti, namun pihak World Learning memutuskan untuk mengirimnya Juli lalu saat liburan musim panas agar ia bisa mengikuti kursus bahasa inggris.Lain halnya dengan Myagmarjav Lkhagvasuren(19) asal Mongolia. Sebelum ke USA, ia sudah menginjak tahun ke-2 di Mongol Ulsin Ih Surguuli (Universitas Negeri Mongolia) dengan mengambil jurusan wildlife di Fakultas Biologi. Ia sangat mencintai kehidupan liar karena ia sering bepergian ke daerah terpencil di daerahnya bersama Sang Ayah yang seorang ahli mammalia atau mammalogist. ”Sejak umur 6 tahun, aku sudah tahu bahwa aku ingin menjadi wildlife biologist. Aku mencintai alam dan aku juga mencintai binatang. Aku adalah bagain dari alam,”terangnya. World Learning menempatkannya di Humboldt State University(HSU) karena universitas di bilangan Humboldt County, California ini terkenal dengan jurusan konservasi lingkungannya. Terlebih karena tidak jauh dari kampus, sekitar 2 jam berkendara, Redwood National and State Park terletak di sana, di mana dulunya terletak pohon tertinggi di dunia.