Tampilkan postingan dengan label S2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label S2. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Agustus 2014

Jilbabku; Bagaimana Kabarmu?



Di penghujung minggu pertama, Spring International Language Program (SILC) University of Arkansas mengadakan dinner antara peserta program dan staffnya di rumah Dr. Lanier, sang Program Director. Rumahnya tidak terlalu besar, namun penuh sesak oleh barang-barang antik yang ia dapatkan dari puluhan negara; Dr. Lanier sudah menjelajahi hampir separuh dunia! (Ouch…One of my dreams!)

Di saat yang lain makan, aku memandangi bunga(dan piring di belakangnya)
Saat yang lain sudah mulai mengiris-iris daging steaknya masing-masing, aku masih meringis-ringis, menanti jam 8.30, waktu magrib di daerah setempat. Kami duduk memanjang dan saling berhadapan. Di depanku adalah Wayne, salah seorang instruktur bahasa kami. Di tahun akademik normal, Wayne adalah dosen di University of California Berkeley, salah satu kampus impian tingkat dunia. Melihatku tengah meneteskan air liur, Wayne berusaha memalingkan perhatianku dari steak menggiurkan itu.

“Imas, I’m gonna ask you something. Menurutmu, orang yang tidak memakai kerudung adalah orang yang tidak baik?”

Selasa, 15 Juli 2014

Berburu Beasiswa ke Amerika Part 5 (PDO, VISA)


Kawan, sudahkah kau baca kisahku dalam Part 4 mengenai musim kelabu akan penantian yang menggebu? Jika sudah, baiklah… kulanjutkan kisah piluku itu.
 
30 April
Daripada menggantungkan hidup pada kepastian namun sepertinya tidak pasti, aku segera melangkahkan diri pada tindakan nyata; mengurus cuti Undip. Andaikata tak ada kampus Amerika sana yang mau menerimaku, setidaknya aku bisa kembali pada pelukan Mas Undip meski ia pernah kuabaikan satu semester lamanya. Ditemani suami dan sepeda motor tua, kami merayapi pantura dari Batang menuju Semarang sejak dini hari.
Dari mulai staff jurusan, staff fakultas, hingga ketua jurusan bertanya mengapa aku mengambil cuti. Kujawab saja, “masalah ekonomi." Memang, pada saat itu, dunia perdompetanku sedang tipis setipis-tipisnya. Untuk makan saja, aku dan suami harus makan sepiring berdua; dan biasanya nambah hingga tiga kali.

1 Mei
26 tahun yang lalu aku dilahirkan di tanggal ini. Semestinya hari ini membahagiakan; setidaknya kejutan spesial dari suamiku. Pagi buta saat ku buka mata; aku terkejut karena tak ada kejutan, tak ada kado, tak ada kue; yang ada hanya lilin bekas mati lampu. Suamiku hanya mengucapkan selamat ulang tahun sambil sepintas lalu. Kubuka Facebook; dari puluhan ucapan yang berdatangan; suamiku tak menulis apapun di dindingku! (Yang kusadari kemudian; kenapa dia harus menulis di dindingku kalau kami tinggal sedinding dan seatap?)
Oh…hanya itu saja kah? Di hari spesial ini, harusnya ia menghiburku! Ia yang paling tau betapa remuk redamnya mimpi yang sempat kubingkai. Ia yang paling mengerti mengapa terkadang pandanganku seakan menerawang. Ia yang melihatku setiap jam membuka email, berharap kabar baik itu datang. Ia yang langsung memahami mengapa emosiku terkadang naik turun dan moodku seringkali jatuh ke jurang terdasar.
Dan seharian itu aku memantapkan hati dan berniat secara sungguh-sungguh dan menyeluruh untuk tidak berbicara setengahpatahkatapun padanya.
Namun, saat paginya berniat seperti itu, siangnya tiba-tiba aku melihat bungkusan kado di kamar. Ingin rasanya mengucapkan terimakasih. Tapi….karena sudah niat ngambek seharian, aku melanjutkan aksi mengunci mulutku; kecuali untuk makanan (bahkan saat gosok gigipun aku tutup mulut).

2 Mei
Di Jumat siang yang panas ini,
Dear Imas,
I am pleased to inform you that you have received official admission to the Master’s program in American Literature at Southern Illinois U, Edwardsville. Congratulations!
ALHAMDULILLAH….

Sabtu, 10 Mei 2014

Berburu Beasiswa S2 ke Amerika Part-4 (The Black Hole)

The Black Hole (Placement Process)
Kebanyakan dari kita sering kali ingin memiliki mesin waktu agar bisa loncat ke masa depan maupun mundur ke masa lalu. Saat yang sedang kita miliki saat ini, masalah yang sedang kita hadapi saat ini, selalu terasa begitu berat sehingga kita mengandai-andai bisa segera melewati saat ini.

Dulu, aku begitu galau dengan statusku yang terasa amat kacau balau. Menjadi istri, ibu, dosen di 3 kampus, mahasiswa sekaligus pengejar beasiswa dalam waktu yang bersamaan membuatku seakan ingin meledak. Ingin rasanya segera melewati momen itu dan berada di masa sekarang.

Sekarang, meski beban mengajarku berkurang, cuti kuliahpun ku ambil, bisa bersama anakku sehari semalam dan semua tes-tesan yang menguras otak dan pikiran, ternyata aku masih saja galau dan kacau. Masalah lama telah teratasi dan berlalu, namun, masalah baru kini mulai bermunculan.

Langkah terakhir dalam usaha mendapatkan beasiswa ke Amerika untuk Master Degree adalah Placement Process, yaitu tahap dimana IIE (Organisasi yang menguruskan beasiswa di US) mendaftarkan kita ke 4 universitas (bagi S2). Tahap ini memakan waktu yang sangat lama, mulai dari bulan Desember hingga Juni. Setengah tahun digantung, boooo!!!! Placement Process memiliki julukan tersendiri, yaitu The Black Hole. Tau kan lubang hitam? Konon katanya di angkasa raya ada lubang bueeeesaaaarrr berwarna hitam yang dapat menyedot benda-benda di sekitarnya; dan plup! Hilang begitu saja, dimakan si Lubang Hitam. Begitu pula Placement Process ini. Segala usaha yang telah kita lakukan, dari mulai mengirimkan lamaran, wawancara, overdosis karena tes, pengumpulan dokumen2, semuanya terasa hilang tak berbekas! Ya, dalam rentang waktu yang lama, kita tak dapat berbuat apa-apa selain menunggu dan menunggu kabar dari IIE, baik maupun buruk.

Umumnya para kandidat akan mendapatkan kabar penerimaan di bulan Maret hingga pertengahan April. Namun, beberapa kandidat yang apes harus menunggu hingga detik-detik terakhir penerimaan. Sialnya, salah satu kandidat apes tersebut adalah aku! Oooohh…nooo…
Jadi, beginilah kronologisnya saudara-saudara….

Jumat, 02 Mei 2014

Berburu Beasiswa S2 ke Amerika Part-3 (Overdoses of Tests)



Setelah wawancara beasiswa yang kacau dan memalukan,  aku tak berani berharap banyak bisa mendapatkan beasiswanya. Tapi, tanganku selalu refleks membuka email tiap kali membuka laptop. Meski jelas-jelas Pak Piet berkata bahwa pengumuman selanjutnya akan diinformasikan akhir Agustus, tapi aku mulai mengecek emailku dari awal Juli. Di satu sisi, aku yakin tidak diterima, namun di sisi lain, aku masih mengharapkanmu, oh beasiswaku sayang…. Hingga akhirnya, suatu sore sebelum solat ashar, aku melihat email ini; email yang membuat sholatku tidak khusyu’ (emangnya biasanya khusyu???).

August 29, 2013
Dear Ms. Istiani,
Congratulations! I am extremely pleased to inform you that you have been officially nominated as a principal candidate for a Fulbright scholarship to pursue study for a Master’s degree in the United States commencing with the Fall 2014 academic term.  Official and final selection for this prestigious program is contingent upon the approval of the J. William Fulbright Foreign Scholarship Board (FSB) in Washington, D.C., the amount of scholarship funds available for the 2014 Fulbright program, and your acceptance for admission by an accredited college or university in the United States.

Oh oh oh…. ALHAMDULILLAH!!! AKU DITERIMA!!! AKU KANDIDAT UTAMA!!!
Rasanya aku memiliki dua sayap yang besar dan lebar yang siap mengantarku ke langit ketujuh! Namun, baru nyampe langit kedua, tiba-tiba aku merosot kembali ke bumi demi melihat keseluruhan isi email!
Menjadi kandidat utama tidak bisa dijadikan jaminan 100% pasti berangkat ke Amrik. Masih ada banyak proses yang harus dilewati lagi yaitu beberapa tes; tes IBT, tes GRE umum, tes GRE Literature dan tahap terakhir yaitu Placement Process. Ok, IBT dulu pernah kuikuti. Setidaknya punya gambaran. Tapi, GRE? Tes apakah itu? Setelah kucari-cari informasinya, ternyata GRE adalah tes yang harus diambil oleh orang yang ingin kuliah master dan doctorate level di Amerika. Melalui hasil GRE inilah, kampus bisa menilai kemampuan akademis pelamarnya. Beruntungnya, semua tes dibiayai AMINEF! Padahal harga tes-tes itu lumayan mahal; satu tes aja bisa mencapai 2 jeti boooo!

Minggu selanjutnya aku mendapatkan jadwal untuk tes-tes tersebut. iBT di akhir September, GRE umum di awal Oktober dan GRE Literature di pertengahan Oktober. Oh Tuhan..jeda waktunya mepet-mepet sekali…satu bulan untuk 3 tes yang super duper sulitnya bagaikan menegakkan benang letoy. Bagaimana aku bisa membagi waktu antara belajar 3 tes itu, mengajar di 3 kampus, kuliah S2 di Undip, mengasuh anak sekaligus melayani suami?
Baiklah saudara-saudara…inilah kisah kasihku yang rumit dengan tes-tes yang membuai perasaan dan memabukkan pikiran sehingga aku overdosis karena mereka.

TES IBT(Internet Based TOEFL)
Untuk melamar kuliah di Amerika, bagi non-native speaker, tentu membutuhkan tes yang mengukur kemampuan Bahasa Inggris agar nanti saat kuliah tidak bengong kemasukan lalat gara-gara tidak mengerti dosennya ngomong apa. Standar skor untuk mendaftar S2 setidaknya 90. Namun, untuk bidang studi yang terkait dengan humaniora, setidaknya mendapat nilai 100 ke atas.

Oh, no!!! bisakah aku dapat 100???? Dulu, score iBT-ku sangat-sangat mengerikan!!! Berarti aku harus melipat gandakan kemampuan Bahasa Inggrisku. Tapi masalahnya cukup klasik; aku hampir-hampir tidak memiliki waktu luang! Jangankan untuk belajar tes, untuk memotong kukupun aku tidak sempat! Terhitung mulai September awal, aku resmi jadi mahasiswa linguistik S2 di Undip. Dulu, aku tidak yakin bisa mendapatkan beasiswa ini. Jadi, daripada membuang waktu, akhirnya aku memutuskan untuk kuliah S2 dengan biaya sendiri. Dan, dilemma pun dimulai…

Seperti inilah jadwalku dalam seminggu;
Senin - Rabu = mengajar dari pagi jam 7 hingga jam 10 malam.
Kamis = jam 3 pagi bangun, pergi ke Semarang. Kuliah jam 8 pagi hingga 6 sore.
Jumat = kuliah dari jam 9 pagi hingga jam 6 sore. Balik ke Pekalongan jam 7 malam.
Sabtu & Minggu = mengurus anak sambil menyiapkan materi mengajar dan mengerjakan tugas kuliah.

Ibu mana yang tega meninggalkan bayinya di pagi buta jam 3?
Yang membuatku merasa miris adalah anakku belum berusia 6 bulan saat itu. Masih ASI eksklusif, tapi harus ku tinggal-tinggal. Di sela-sela waktu kosong saat Yesha tidur, aku memompa ASI untuk stok saat kutinggal mengajar maupun kuliah. Sebenarnya ada jalan yang lebih mudah, yaitu susu formula. Tapi, aku merasa menjadi ibu yang buruk karena tidak memiliki waktu untuk Yesha. Setidaknya, dengan ASI ekslusif ini, aku berusaha memberikan yang terbaik untuknya.

Perjuangan berat lainnya adalah tiap kamis jam 3 pagi aku harus membangunkan suamiku untuk mengantarkanku ke Semarang. Dengan menembus pagi yang masih teramat gelap dan dingin, mata yang kantuk dan badan yang lelah sering membuatku hampir terjatuh dari motor yang kami kendarai. Suamiku harus selalu mengoceh sepanjang jalan mengajakku ngobrol agar aku terbebas dari kantuk. Sesampainya di Semarang, biasanya jam 6 pagi, kami sarapan di warung favorit kami yang membolehkan kami mengambil nasi dan lauknya sebanyak mungkin dengan harga yang semurah mungkin. Selesai sarapan, aku langsung ke kos untuk mengambil buku kuliah dan siap untuk belajar, sementara suamiku langsung balik lagi ke Pekalongan.

Sabtu, 01 Maret 2014

Tips Menulis Study Objective untuk Aplikasi S2 AMINEF



Tulisan ini saya dasarkan pada pengalaman saya dalam menulis study objective, yang Alhamdulillah bisa mengantarkan saya pada tahap selanjutnya, yaitu wawancara. Berikut ini tips yang bisa saya bagi pada kawan semua:
1.      Fokuskan pada kajian studi yang anda minati, makin spesifik makin baik. Misal, jika anda ingin belajar sastra, jangan hanya menyatakan bahwa anda ingin belajar sastra amerika secara global (karena teramat luas). Tuliskan bahwa anda tertarik untuk mengkaji sastra karya keturunan cina-amerika, terutama yang kaitannya dengan dualisme identitas.
2.      Semisal anda ingin mengkaji sastra cina-amerika, carilah informasi mengenai penelitian atau karya tersebut yang dilakukan oleh para professor universitas di Amerika. Hal ini untuk menguatkan bahwa minat studi Anda akan tercapai dengan baik di Amerika karena adanya jurusan yang sesuai. Tapi, jangan tuliskan nama kampus tertentu, cukup disiratkan saja bahwa beberapa kampus di amerika memiliki konsentrasi yang sesuai minat anda.
3.      Kaitkan minat studi anda dengan pengalaman anda sebelumnya, apa yang sedang anda lakukan, dan apa yang akan anda lakukan sepulangnya dari AS. Pihak beasiswa ingin agar para penerima beasiswa benar-benar memberikan sumbangsih sekembalinya dari belajar nanti.
4.      Meski hanya selembar, tapi study objective yang bagus akan memakan banyak waktu, tenaga dan pikiran. Oleh karenanya, sediakan waktu luang setidaknya satu jam sehari (dengan asumsi Anda masih memiliki waktu sebulan untuk melakukannya).

Sabtu, 22 Februari 2014

Berburu Beasiswa S2 ke Amerika Part-2 (Wawancara Oh Wawancara)




Di suatu senja pada tanggal 3 bulan Juli 2013, iseng aku membuka email. Hei…ada yang baru masuk!

We are pleased to inform you that the AMINEF selection committee has finished their review on the Fulbright Master’s Degree Program applications, and would like to consider you for an interview which is tentatively scheduled on Tuesday, July 16, 2013, in Yogyakarta.

Wah…aku langsung pengen loncat-loncat! Tapi ooppss!!! Aku sedang ada di depan kelas, mahasiswaku sedang mengerjakan tugas yang barusan kuberikan, dan aku sedang berpura-pura mereview materi;padahal lagi internetan! (don’t try this at home!)
Tak ingin buang kesempatan, aku langsung membalas bahwa aku bersedia untuk melakukan interview. AMINEF kemudian menanyakan berapa ongkos transportasi PP dari Pekalongan-Yogya. Mereka juga akan mengganti akomodasi hotel jika aku menginap di Yogya.

Sebelum Hari H
Karena aku memiliki bayi yang baru berumur 3 bulan yang masih ASI eksklusif; rencana perjalanan dari Pekalongan-Yogya yang memakan waktu sekitar 5 jam tentu harus dipikirkan matang-matang. Setelah berdiskusi dengan suami, kami memiliki beberapa rencana.
1.    Sebelum hari-H, aku ke Yogya menggunakan travel. Yesha dan otomatis suami ikut serta. Kami menginap di hotel yang tidak jauh dari tempat wawancara.
Kelebihan : aku tidak perlu khawatir tentang ASI untuk Yesha.
Kekurangan : biaya membengkak karena harus menginap di hotel, transport travel PP untuk aku dan suami, plus biaya makan.
2.    Sebelum hari-H, aku ke Yogya sendiri dan menginap di hotel.
Kelebihan : lumayan lebih ngirit biaya daripada rencana no.1
Kekurangan : aku harus menahan rasa sakit karena Yesha tidak menyusu selama 2 hari (yang pernah menyusui pasti tau rasa sakitnya yang dahsyat dan luar biasa). Selain itu, aku harus mulai stock ASI berbotol-botol untuk simpanan 2 hari.
3.    Berangkat subuh pada hari H dengan menggunakan motor bersama suami; tidak ada travel yang berangkat subuh. Karena wawancara jam 1 siang, maka kami bisa berangkat pagi-pagi buta.
Kelebihan : stock ASI cukup untuk 1 hari. Biaya jauh lebih hemat dari no.1 dan no. 2
Kekurangan : karena naik motor selama 5 jam, tentu aku akan kelelahan dan ngos-ngosan saat tiba di tempat wawancara.
Akhirnya kami putuskan untuk mengambil rencana no.3! Selain hemat biaya, juga tidak perlu stock ASI yang banyak. Meski biaya dan hotel ditanggung AMINEF, tapi itu hanya berlaku untuk 1 orang saja.

Kamis, 20 Februari 2014

BERBURU BEASISWA S2 KE AMERIKA (Formulir Aplikasi dan Study Objective, part-1)



Menjadi dosen yang baru bergelar S1 itu sungguh menyedihkan. Ibaratnya jeruk makan jeruk. Masa mahasiswa S1 diajar dosen yang baru S1 juga? Ingin lanjut study, tapi biaya gak mumpuni. Akhirnya ku cari berbagai beasiswa S2 yang memungkinkan kucoba. Chevening di Inggris dan ADB di New Zealand? Work experienceku belum ada 2 tahun. Erasmus mundus di Eropa? Aku gak punya IBT maupun IELTS. Yang memungkinkan adalah AMINEF (Amerika) dan ADS/AAS (Australia).

Study Objective
Formulir aplikasi AMINEF untuk beasiswa S2nya sungguh membuatku tercengang. Hanya 4 lembar! Itupun yang perlu diisi hanya teramat sangat sedikit sekali (super lebay). Bandingkan dengan milik ADS yang mencapai 30 lembar!

Namun yang membedakan adalah study objective-nya. Apa sih study objective itu? Secara harfiah, study objective adalah tujuan belajar yang biasanya diminta oleh universitas untuk mengetahui seberapa kuat keinginan belajar calon mahasiswanya. Kurang lebih study objective untuk aplikasi AMINEF berisi: Apa yang ingin kau pelajari di Amerika? Mengapa kamu ingin mempelajarinya di Amerika? Skill apa yang ingin kamu kuasai? Apa kaitannya dengan pengalamanmu sebelumnya? Bagaimana dengan rancanganmu ke depan nanti setelah lulus S2 di Amerika?