Selasa, 27 April 2010

Counting Down

2 Mondays left for going home to leave the place that I am used to calling ‘home’.
This is the best year of my life ever. I already felt all kind of the season; sunny summer, falling autumn, frozen winter and blossoming spring. I am not cursing anymore when the earth is trembling or the wind is attacking. I am not puking anymore when the casserole is too creamy and the steak is too thick. I am not crying anymore when the list of the assignments are waiting meanwhile the deadlines are blocking.

This is my life that I am heading. But this is still my way that I am walking. I have to run to pursue the unseen blurry future while in the same time I want to spin around and around to see other sceneries that probably missing. So, what I’m supposed to do for the best now and the better future? My hand could not grab wider enough.

I am still leaning on the wall, trying to bump my head when I realize that I could not see any clear enough view through the keyhole of the door; too small for my big eyes. Should I go to surgery to fix my eyes? Or is it cheaper to change the door with the bigger keyhole?
I am thinking again about what I already achieved here; if there are some. Do I get it? Do I forget it? Do I forget that I do not get anything at all? Do I get fooled of myself by myself?

Those are all “Do I”.
How about “do you”?
Do you think I got something?
Do you know if I am now such a cow?
Do you see that I am drowning in the sea?
Do you still look at me now? and then? Now and then?

Arcata, Monday, April 26, 2010

Senin, 26 April 2010

Frame of Blame

Looking out of lattice-frame
Downpour to blame
I still could see through the drops of rain
As if it were not cloudy
as I should have been

“What are you doing in this crazy rain?”
He frowned at me, but cheerfully
Nothing wrong, whispered I (rain was still heavy)

“Just go back home!”
He asked me, but weakly
Nothing there, shook I (overcast was over)

“I could not give you what is not there,”
He told me, but dimly
Nothing matter, said I, (rain should have been fixed)

“I should go.”
He left me, but tremblingly
Nothing more, knew I (overcast was casted back!)

Blown Rose’s Crown

A brittle rose was blown
One fall one failure
Fallen nerveless into the river
Drowned without its crown
Jump, it tried to
Hard, it was so
Cry, it only could do
Die, the only option to
the wings Nightingale fluttered
the tail Lion plopped down
the branch root the Tree stretched
the more the hope was gone
World goes around
No matter it is up or down
Life must go on
But die must be won

Minggu, 25 April 2010

Pertahanan Diri vs Intuisi


Selesai menyantap Noodle Soup a la Laos bersama keluarga Laos yang telah tinggal di Portland, Oregon selama berpuluh tahun, kami berbincang sejenak mengenai ini-itu.
Ketika mengetahui bahwa aku akan pergi ke LA, Sommone (sang Ayah) dan Joy (sang Ibu) menasihati bahwa LA sangatlah rawan kejahatan, baik itu copet, maling, rampok, rasisme, hingga pembunuhan. “Di LA, ada tempat yang sangat rawan. Para penghuninya tidak takut dengan hukum ataupun polisi. (kayak Gotham city di Batman! seru Keilly). Jika kamu masuk ke wilayah itu, dan terlihat tersesat dan tanpa pengamanan, maka dijamin kamu tak akan pernah kembali,"nasihat Sommone.
Mereka tidak ingat apa nama kawasan itu, namun semua penduduk LA hampir tau mengenai kawasan terlarang itu. Aku jadi teringat dengan film-film Hollywood yang suspense maupun action tanpa pernah menyangka bahwa ternyata tempat itu benar-benar ada!!!
Sommone berpendapat bahwa rawannya kejahatan itu karena banyaknya orang yang ingin mengadu nasib di LA.”Ya,karena Hollywood menjanjikan untuk industry perfilman,”pancingku yang diangguki Sommone yang kemudian melanjutkan, “karena itu banyak sekali gadis muda cantik di sana namun hidup tidak karuan karena mereka telah menghabiskan semua uang mereka untuk bisa menjadi selebritis namun kesempatan tidak berpihak pada mereka. Akibatnya, mereka rela berbuat apa saja demi bertahan hidup, dari perbuatan kriminal hingga menjual diri.” Sungguh, kejamnya Hollywood hampir tidak tercium jika kita melihat filmnya saja, kernyitku.
“Lalu, lebih bahaya manakah naik bus dengan jalan kaki di LA?” tanyaku yang mulai dihinggapi kekhawatiran. “Sama saja. Intinya dalah menjaga diri. Jangan sampai lengah sedikitpun. Jika ada orang yang menabrakmu, periksa langsung semua dompet dan tasmu,”jawab Joy menggebu-gebu.
“Bagaimana dengan Portland sendiri?” berondongku. “Kalau siang-siang sih aku tidak khawatir, namun kalau malam, jangan ke luar sendirian,”ancam Sommone. Joy lalu menambahkan,”dulu, 30 tahunan yang lalu, Portland sangat aman. Pernah kami berpegian meninggalkan rumah selama 5 hari tanpa mengunci pintu. Aku mengira Ia(Sommone) mengunci pintu dan ia mengira aku mengunci pintu. Pas kami pulang, pintu terbuka dan kami langsung memanggil polisi tanpa berani memasuki rumah dahulu karena kami khawatir ada orang lain di dalam rumah. Namun, ternyata tidak ada tanda-tanda pembukaan paksa ataupun barang hilnag lainnya. Akan tetapi, keadaan sangat jauh berbeda sekarang ini. Seorang wanita tua yang tinggal di depan kami pernah membukakan pintu untuk seorang gelandangan pada suatu malam yang sangat dingin. Hati nuraninya merasa iba jikalau ia membiarkan gelandangan itu kedinginan. Namun, ternyata setelah ia membukakan pintu dan mempersilakan masuk, ia dirampok habis-habisan dan dipukuli hingga babak belur. Sejak saat itu, ia memilih untuk tidak bersikap baik pada orang asing. Hanya intuisimulah yang dapat merasakan apakah orang itu baik atau tidak,”cerita Joy. Namun, bahkan hanya dengan mendengar cerita barusan, aku sendiri tidak yakin, apakah intuisi itu masih bisa diandalkan saat ini?

Pertalian Ruh dan Jiwa



Aku mengerti kini, kenapa kau bisa begitu detailnya memaparkan perasaan ketika kita bersama berusaha melaju memutuskan semua tali yang dulunya terkekang kencang, ataupun saat kau berusaha meyakinkan bahwa lalu lalang orang tak lagi kau serang. Karena kau masih berada di tempat yang sama!!!
Aku lalu mulai berkhayal jikalau kita sebenarnya memiliki banyak ruh. Ruh tersebut tertinggalkan pada suatu saat di suatu tempat yang kita anggap sakral ataupun banyak memiliki kenangan. Ketika kita bersua kembali dengan tempat itu, maka ruh tempat tersebut pun bersua kembali dengan ruh yang kita bawa kemanapun. Dan, ruh tersebut dengan lembutnya menarik kita ke waktu dimana ruh tersebut kita tinggalkan. Karena kau masih berada di sana, dan sering melewati tempat-tempat kenangan kita, maka ruhmu sering bertemu dengan ruh tempat-tempat itu, dan akhirnya kau merasa bahwa aku berada dimana-mana, entah menganggu ataupun merindu.
Dan, hal itu terjadi padaku; kini.